Flash News
No posts found

Pantura Dan Dana Pembangunan Pasar, Sama Sama Semrawut

Suasana arus kendaraan semrawut di depan pasar Sluke.

Suasana arus kendaraan semrawut di depan pasar Sluke.

Sluke – Pembangunan pasar desa Sluke Kec. Sluke yang terkatung katung berdampak terhadap kesemrawutan jalur pantai utara (Pantura). Puluhan pedagang, parkir sepeda motor dan tempat mangkal tukang becak masih bercampur menjadi satu, memanfaatkan bahu jalan. Kondisi itu bertambah parah, saat ada awak bus mini menunggu calon penumpang.

Ladi, penjual buah asal desa Sluke menuturkan terpaksa menjajakan barang dagangannya di luar kawasan pasar selama dua tahun terakhir. Memang cukup beresiko, apalagi kalau lalu lintas jalur Pantura cukup padat, terutama saat arus mudik maupun arus balik Lebaran. Ladi agak menggerutu, karena sudah membeli kios dalam proyek pembangunan pasar, tetapi sampai sekarang belum juga terealisasi.

Tukang becak di depan pasar Sluke, Muhammad Sahri menjelaskan sejak jalur Pantura semakin lebar, tukang becak terdesak dan memilih parkir di bahu jalan, lantaran sulit mencari tempat lain yang strategis. Ia berharap pasar segera direvitalisasi, posisinya agak mundur ke selatan, sehingga ada lahan parkir memadai. Bahkan menurut informasi dari panitia pembangunan, akan dilengkapi pula dengan akses jalan untuk angkutan dari arah barat, kemudian bisa keluar sebelah timur pasar.

Sebagaimana kami beritakan sebelumnya, kemelut pembangunan pasar Sluke terjadi, seusai uang muka pembelian kios dari pedagang sekira Rp 244 juta tidak jelas keberadaannya, belakangan menyeret nama Kades Sluke, Tulus Priyo Prasetyo. Warga protes dengan memblokir jalan di sebelah barat pasar yang menjadi akses keluar masuk truk untuk menguruk lahan pasar. Panitia siap membuka pemblokiran dan melanjutkan pembangunan pasar, asalkan semua dana dikembalikan. Setelah Lebaran ini, masalah tersebut akan dibahas lagi oleh pihak panitia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *