Flash News
No posts found

Belasan Tahun Menjaga Makam Pejuang, Usir Keinginan Jadi PNS

Jukri membersihkan kawasan Taman makam Pahlawan Giri Bhakti Rembang, Jumat pagi.

Jukri membersihkan kawasan Taman makam Pahlawan Giri Bhakti Rembang, Jumat pagi.

Rembang – Pria ini sudah sebelas tahun merawat Taman Makam Pahlawan Giri Bhakti desa Kabongan Kidul Rembang. Ia menganggap puluhan makam para pejuang tersebut seperti layaknya makam keluarga, meski sama sekali tidak mempunyai hubungan kekerabatan. Memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 68, kami hadirkan laporan Reporter R2B, Wahyu Adi berikut ini.

Jukri (71 tahun), warga desa Kabongan Kidul Kec. Rembang Kota, pagi itu sibuk membersihkan areal pemakaman Giri Bhakti Rembang. Tidak hanya menyapu daun daun yang berserakan di atas makam, tetapi dengan telaten, ia juga mencabuti rumput rumput liar yang mulai meninggi di depan kompleks makam dan menambah jumlah tanaman penghijauan.

Jukri mengaku sudah sebelas tahun bekerja sebagai penjaga taman makam pahlawan tersebut. Setiap hari, antara pukul 06 pagi sampai dengan 11 siang, bisa dipastikan dirinya berada di makam pahlawan. Awal mula menjalani profesi itu, ketika ada seorang besannya yang bekerja di instansi Dinas Sosial Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kab. Rembang menawari, dengan alasan rumahnya dekat dengan makam.

Jukri menerima. Saat ini setiap bulan memperoleh bayaran Rp 520 ribu dari Dinsosnakertrans. Uang honor untuk sekedar menyambung ekonomi sehari hari. Kebetulan ia banyak mengisi waktu seorang diri, karena isterinya sudah meninggal dunia, sedangkan dua anaknya telah berkeluarga.

Dulu memang sempat berpikir ingin diangkat menjadi pegawai negeri sipil, tetapi sekarang tak ada angan angan lagi, seiring dengan usianya yang terbilang semakin uzur.

Jukri menimpali ingin membulatkan tekad menjaga Taman Makam Pahlawan Giri Bhakti, sampai tenaganya tidak kuat atau bahkan hingga akhir hayatnya kelak. Menurutnya makam sudah dianggap seperti makam keluarga sendiri. Apalagi semasa hidup, mereka telah berjuang bertaruh nyawa demi merebut kemerdekaan, sehingga kita bisa menghirup udara kebebasan sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *