Flash News
No posts found

Terungkap, Tiga Kapal Bantuan Dikelola Satu Kelompok

Sebuah kapal nelayan bersandar di pinggir pantai Sarang (ilustrasi).

Sebuah kapal nelayan bersandar di pinggir pantai Sarang (ilustrasi).

Rembang – Bantuan tiga kapal dari PT Pelindo III dan Kementerian Kelautan Dan Perikanan, yang dihibahkan kepada tiga kelompok usaha bersama di kabupaten Rembang, muncul dugaan dikelola semua oleh sebuah kelompok yang diprakarsai Musafak.

Salah satu penerima bantuan kapal, KUB Maju Mandiri desa Kabongan Lor Rembang misalnya, sejak tahun 2011 lalu menyerahkan pengelolaan kapal kepada Musafak.

Anggota KUB Maju Mandiri yang juga mantan kepala desa Kabongan Lor, Rusmanto beralasan kapal bantuan dari PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) tidak bisa langsung digunakan untuk berlayar mencari ikan. Kala itu perlu banyak perbaikan, sehingga daripada kapal menganggur, kapal diserahkan kepada Musafak. Menurutnya ongkos melengkapi sarana prasarana kapal, menghabiskan Rp 280 an juta. Selama kapal melaut mencari ikan sampai sekarang ini, hasilnya untuk membayar hutang kepada Musafak. Kelompok Maju Mandiri sebenarnya juga berminat mengelola sendiri, tapi belum mengantongi modal.

Penjabat Kades Kabongan Lor Rembang, Sutrisno mengaku warganya sebatas mendengar pernah ada bantuan hibah kapal tersebut, tapi sampai sekarang sama sekali belum pernah melibat wujudnya seperti apa. Sutrisno menyayangkan keputusan mengalihkan pengelolaan kepada pihak lain. Apalagi belum ada dana bagi hasil yang diterima. Mustinya keberadaan kapal bisa untuk meningkatkan kesejahteraan kaum nelayan, terutama bagi anggota kelompok.

Saat pertemuan di kantor Dinas Kelautan Dan Perikanan Kab. Rembang, hari Kamis (22 Agustus 2013), tiga perwakilan pengurus KUB, masing masing dari Tanjungsari, Kabongan Lor dan Sarangmeduro Kec. Sarang hadir.

H. Fathoni, Ketua KUB Mina Sejahtera Samudera Sarangmeduro menjelaskan pihaknya mempunyai surat perjanjian kerja sama dengan Musafak, terkait pengelolaan kapal selama tiga tahun, sejak akhir tahun 2011 lalu. Setiap bulan, ia menerima dana bagi hasil antara Rp 3 – 4 juta.

Sementara itu Musafak mempersilahkan kepada pengurus dua kelompok usaha bersama kalau mau mengelola kapal bantuan tersebut. Ia menegaskan sama sekali tidak bermaksud ingin menguasai.

6 Komentar

  1. horo toh

    Tidak niat menguasai tapi tidak mengsmbil hak nelayan.. itu apa artinya? Mestinya semangat memberdayakan nelayan yg didahulukan oleh dinas kelautan. Bukan malah dimasukan ke sarang buaya koruptor.. memang siapa musafak siapa salim dan suparman kepala dinas kelautan.. Semua orang juga sudah pada tahu.. apapun alasannya itu penyimpangan yg mengarah ke pelnggaran pidana.. karena sudah mengambil hak hak nelayan dan menlanggar aturan hibah yg sudah ditentukan.. tanpa keluasaan salim seorang musafak yg 5tahun lalu hanyalah pekatik salim di KM tak mungkin bisa mengambil alih pengelolaan kapal yg jelas-jelas milik nelayan yg nilainya hampir 5milyar itu..

  2. eda

    saya perjelas lagi,bukan satu kelompok yg mengelola,tetapi satu orang.orang itu ya musafak.itu pengakuan musafak saat audensi dgn suparman jg lespem

  3. sirno

    ada pejabat yg terlibat karena mengamini dan melakukan pembiaran.. sudah jelas tahu ada kesalahan dan pelanggaran aturan hibah dan perampasan kok diam saja. ini jelas ka itwil dan dinas kelautan sengaja membiarkan karena sama sama tahu kalo dibelakang musafak adalah kekuasaan tertinggi yg selama ini telah menjadikan mereka jabatan.

  4. Diajeng

    Memang hanya Safak yang mengelola, tapi uangnya lari ke mana mana untuk kroni dan kelompoknya.

  5. BERTRAND

    Mbok dibalekno nggo wong mbelah,ra usah kakeyan alasan,,!!!!

  6. ririn

    wong iku rejekine ono seng ngatur, mbok jo do kakean maido pemirsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *