Flash News
No posts found

Dicurigai, Kedatangan Barang Bekas Dari Papua

Situasi dermaga pelabuhan Tanjung Bonang Sluke. Tampak sebuah kapal bersandar, belum lama ini.

Situasi dermaga pelabuhan Tanjung Bonang Sluke. Tampak sebuah kapal bersandar, belum lama ini.

Sluke – Di pelabuhan Tanjung Bonang desa Sendangmulyo Kec. Sluke diduga mulai terjadi aktivitas gelap untuk bongkar muat barang. Tudingan tersebut dilontarkan oleh Anang Purwandono yang mengatasnamakan dari elemen Lembaga Penegak Keadilan (LPK).

Menurut Anang, belum lama ini bersandar sebuah kapal mengangkut barang barang bekas, seperti crane, buldoser dan eskavator. Informasinya alat berat tersebut dibeli dari wilayah Papua. Ia mempertanyakan status barang itu, milik Direktur PT Pelabuhan Rembang Kencana, Prilestiyo secara pribadi atau milik pihak lain. Anang menganggap setiap kali ada kapal bersandar membongkar barang, seharusnya sudah berizin dan memberikan pemasukan bagi daerah. Belakangan muncul kekhawatiran, pelabuhan Tanjung Bonang menjadi lalu lintas peredaran barang barang ilegal, karena kurangnya pengawasan dari aparat.

Mendengar temuan itu, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi Dan Informatika Kab. Rembang, Suyono menandaskan pihaknya sebatas mengeluarkan izin bagi perahu perahu kecil berbobot 7 gros ton kebawah. Sedangkan apabila ada kapal besar membongkar besi atau alat berat, tentu kewenangan kantor administratur pelabuhan Rembang yang berhak memberikan izin.

Sampai dengan berita ini diturunkan hari Sabtu (24 Agustus 2013), Direktur PT Pelabuhan Rembang Kencana, Prilestiyo belum bisa dikonfirmasi. Saat didatangi ke kantor PT RBSJ pinggir jalur Pantura desa Tireman Rembang, yang bersangkutan tengah ada agenda keluar. Dihubungi nomor telefon selularnya, terdengar nada sambung, tetapi tidak diangkat. Begitupun ketika kami tanyakan masalah tersebut melalui pesan pendek sms, Prilestiyo tidak membalas.

1 Komentar

  1. sukendar jkt

    para malimg meski tempatnya menyewbar baik ada dibirokrasi maupun diluar macam bumd semua digerakan oleh satu pintu dan terpusat disatu tangan. sementara lembaga kopntrol macam dprd sudah terjwebak korupsi sistemik. tak ada satupun pimpinan dan anggotanya yg terbebas dalam jeratan korupsi di rembang. ini yg membuat koprupsi tlah mengabil seluruh sendi sendi kehidupan masy di rembang. melalui birokrasi dan partai politiknya salim telah mengambil semua milik umum menjadi milik pribadi dan kroninyz dgn persetujuan rakyat palsu yakni dprd dan para pekatiknya gh lembek yakni hamzah fatoni dkk….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *