Flash News
No posts found

Plus Minus Pilkades Tiga Hari, Apa ?

Pilkades di desa Dresi Kulon Kec. Kaliori, beberapa waktu lalu.

Pilkades di desa Dresi Kulon Kec. Kaliori, beberapa waktu lalu.

Rembang – Pemilihan kepala desa di 241 desa se kabupaten Rembang tidak berlangsung selama sehari. Tetapi digelar selama tiga hari, antara 12 – 14 November 2013, menyesuaikan pembagian wilayah.

Anggota Komisi Bidang Pemerintahan DPRD Rembang, Gatot Paeran menuturkan zona timur meliputi kecamatan Sarang, Sale, Sedan dan kecamatan Kragan akan lebih dulu mengadakan Pilkades, kemudian menyusul zona tengah terdiri dari Sluke, Lasem, Pamotan, Pancur dan Gunem, sedangkan Pilkades zona barat belakangan yakni Kec. Rembang Kota, Sulang, Bulu, Kaliori dan Kec. Sumber.

Menurut Gatot, kalau diadakan serempak sehari, aparat kepolisian cukup berat mengamankan. Tetapi dengan pembagian seperti itu, polisi yang dibackup TNI akan lebih mudah membagi personelnya.

Sukarno, kepala desa Logung Kec. Sumber berpendapat ada sisi keunggulan maupun kelemahan, pelaksanaan Pilkades dipecah dalam tiga hari. Positifnya, fokus pengamanan menjadi lebih ringan, sehingga polisi cepat mengantisipasi, kalau muncul potensi kericuhan. Berbeda jika sehari serempak, begitu banyak keributan antar pendukung misalnya, polisi dikhawatirkan sulit mengendalikan.

Pilkades tiga hari juga menimbulkan konsekuensi, ruang gerak botoh atau petaruh akan sedikit leluasa, berbeda jika Pilkades serentak sehari. Sukarno menilai keberadaan botoh, terkadang ikut mempengaruhi perolehan suara calon. Hal ini yang harus diwaspadai.

Sementara itu, Kepala Satuan Intel Polres Rembang, AKP Antonius Wiyono mengungkapkan pihaknya belum memetakan titik titik kerawanan Pilkades, karena Pemkab Rembang belum berkoordinasi mengenai masalah tersebut.

Begitu nanti data diterima, polisi akan langsung menghitung tingkat kerawanan, berdasarkan jumlah calon, pemilih dan situasi wilayah.

1 Komentar

  1. durosembodo

    saking asyiknya jadi penderek pak bupati yang hanya mikir enaknya sendiri’ subakti sudah lupa apa itu desa dan kota.. hoingga pemimpin desapun sudah semsemakin dibikin personal dan pribadi. bukan lagi mempertahankan guyuub rukun dan kontrol sosial. memang korupsi lebih tumbuh subur kalo pemimpoinnya lebih bergaya semau gue dan tak peduli apa kata orang.. dan tampaknya tinggal tunggu wsaktu kapan masy tidask bersabar dan marah saling pukul.. karena ulah pimpinannya yang mementingkan diri sendiri. dan terbukti pilkades sepertinya tidak lagi mencggambarkan kepentingan kpomunitas desa tapi lebih sebagai kepentingan pribadi calon. dan itu didukung penuh oleh pemkab dgn adanya tanda gambar perorangan.. dan konflik politikpun akan mengarah pada pribadi bukan atas kepentingan komunitas… selamat memuja muja politik personal dan mennghancurkan politik gotong royong di desa..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *