Flash News
No posts found

DPRD Ngotot, Kades Menolak

Buah padi sebagai simbol tanda gambar calon menggelayut di pintu Balai Desa, saat Pilkades Langgar Kec. Sluke, beberapa waktu lalu.

Buah padi sebagai simbol tanda gambar calon menggelayut di pintu Balai Desa, saat Pilkades Langgar Kec. Sluke, beberapa waktu lalu.

Rembang – Komisi A Bidang Pemerintahan DPRD Rembang ngotot untuk mengganti format surat suara dalam pemilihan kepala desa (Pilkades), dari yang semula menggunakan tanda gambar tanaman menjadi foto calon.

Muhammad Asnawi, anggota DPRD dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa mengakui warga di pelosok pedesaan, memang sudah sangat akrab dengan tanda gambar tanaman, seperti padi, jagung, ketela maupun kacang, karena hal itu berlangsung sejak puluhan tahun silam. Tetapi anggota dewan asal desa Kedungtulup Kec. Sumber ini menilai zaman sekarang sudah maju, tak ada salahnya mulai dirubah menggunakan surat suara foto calon.

Gatot Paeran dari Fraksi Partai Golkar juga setuju perubahan surat suara Pilkades. Seperti halnya pemilihan bupati, gubernur dan presiden, semua sudah menggunakan foto calon, bukan sekedar simbol. Apalagi sekarang banyak usaha percetakan, sehingga pembuatan surat suara berwarna tidak masalah. Anggota legislatif dari desa Karangharjo Kec. Kragan tersebut akan memperjuangkan usulannya, saat pembahasan di gedung DPRD, dalam waktu dekat ini.

Tapi wacana Komisi A DPRD Rembang, langsung ditolak sejumlah kepala desa. Dahlan, kepala desa Pranti Kec. Sulang yang siap maju mencalonkan lagi, menuturkan Pilkades akan digelar pada bulan November 2013. Setelah masa jabatannya berakhir tanggal 12 September, baru mulai tahapan persiapan. Dahlan berpendapat, waktunya terlalu mepet untuk membuat surat suara bergambar foto calon. Tentu harus berwarna, tidak boleh hitam putih, supaya lebih jelas.

Dahlan menambahkan setiap rencana perubahan ketentuan, mustinya melewati sosialisasi yang cukup kepada masyarakat. Jangan sekedar karena aturan membolehkan, tetapi justru membingungkan pemilih. Apalagi Pilkades memiliki potensi kerawanan gesekan antar pendukung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *