Flash News
No posts found

Kritik Sosial Hingga Kontrasepsi Raksasa

Aksi siswa SMP An Nawawiyah Tasikagung, di balik “penjara”.

Aksi siswa SMP An Nawawiyah Tasikagung, di balik “penjara”.

Replika alat kontrasepsi berukuran raksasa disosialisasikan untuk mencegah penularan virus HIV – Aids.

Replika alat kontrasepsi berukuran raksasa disosialisasikan untuk mencegah penularan virus HIV – Aids.

Rembang – Meski ditengah minimnya ide kreatif saat kegiatan karnaval memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 68, Kamis siang (29 Agustus 2013), namun masih ada sejumlah peserta yang tampil beda. Tidak hanya mengundang gelak tawa para penonton, tetapi juga sarat dengan kritik sosial.

Salah satunya penampilan dari SMP An Nawawiyah desa Tasikagung Rembang. Mereka menyulap sebuah kendaraan bak terbuka menjadi replika penjara. Di dalam tahanan sempit, dua orang siswa berperan sebagai pencuri ayam dan sandal. Tapi ada pula sejumlah koruptor di luar tahanan yang masih bebas, sambil memegang banyak uang. Kalaupun ditahan, mereka tetap mendapatkan fasilitas penjara layaknya kamar hotel VIP, lengkap pula dengan pesawat televisi.

Aksi SMP An Nawawiyah Tasikagung ini menyedot perhatian masyarakat. Salah satu penonton asal Perumahan Permata Hijau Ngotet Rembang, Susiati menganggap ide tersebut menunjukkan sekolah peka terhadap perkembangan di Indonesia, bahwa sering terjadi ketidak adilan penegakan hukum. Siapa yang memiliki uang banyak, akan berkuasa, meski sudah berada dalam tahanan.

Menurut Susiati, sindiran sejumlah bocah itu mustinya membuat malu para pejabat, supaya tidak melakukan korupsi. Ia sendiri juga mendukung kebijakan pemerintah, menghapuskan remisi atau pemotongan hukuman bagi koruptor.

Sementara itu, SMAN I Rembang lebih mengingatkan kembali kemasyhuran Indonesia sebagai bangsa yang besar, ditandai kisah kerajaan Majapahit zaman dahulu kala. Di atas truk trailer, siswa berperan menjadi raja Hayam Wuruk beserta permaisuri dan patihnya Gajah Mada yang terkenal dengan sumpah palapa, sebuah sumpah sarat semangat persatuan. Salah satu guru SMAN I Rembang, Sukarno menjelaskan sekolah menganggarkan dana Rp 5 juta, untuk ikut karnaval.

Beda lagi dengan peserta karnaval dari Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang. Begitu mobil instansi tersebut melintas, seketika tawa penonton, terutama kaum ibu langsung pecah. Lantaran di atas mobil, seorang pegawai membawa replika alat kontrasepsi jenis kondom berukuran raksasa.

Bagi warga, kegiatan kali ini terasa lebih semarak, karena digabung menjadi satu dengan peringatan hari jadi Rembang ke 272. Pawai kereta kencana dan dokar dinaiki bupati, anggota forum komunikasi pimpinan daerah dan pejabat, berada pada deretan terdepan karnaval. Setelah itu disusul 53 peserta dari dinas, instansi pemerintah maupun kalangan swasta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *