Flash News
No posts found

Musim Kering, Gantungkan Hidup Di Perantauan

Warga di Rembang menanti pekerjaan.

Warga di Rembang menanti pekerjaan.

Rembang – Musim kering pada awal kemarau ini mengakibatkan suasana sejumlah desa di kabupaten Rembang lengang, karena banyak pemuda yang memilih merantau ke luar daerah.

Mereka biasa menyebutnya menjadi kaum boro atau kaum perantauan. Di desa Watupecah Kec. Kragan misalnya. Desa yang terletak di puncak pegunungan tersebut, nyaris tak ada peluang kerja. Dari sektor pertanian, jarang sekali terdapat tanaman padi, meski musim penghujan. Kalaupun ada tegalan, lebih banyak ditanami buah buahan, seperti nangka, pisang, duku dan durian.

Sekretaris Desa Watupecah Kec. Kragan, Kismu menjelaskan sekira 100 orang warganya mulai mengadu nasib ke berbagai wilayah, seusai Lebaran kemarin. Paling banyak menuju kota Surabaya, menjadi pekerja bangunan. Sisanya tersebar di Batam, Kalimantan dan beberapa orang bekerja ke Malaysia. Menurut Kismu, saat musim kemarau, kesempatan kerja sangat minim. Ia mengibaratkan kalau bertahan di desa Setempat, sudah pasti akan banyak menganggur. Lebih baik di daerah orang, yang penting memperoleh penghasilan kotor, rata rata Rp 60 – 70 ribu per hari.

Hal senada diungkapkan Giran, warga dusun Jatirejo desa Grawan Kec. Sumber. Dari 150 an kepala keluarga di dusun Jatirejo, sebagian besar pemudanya sekarang ini sudah berangkat merantau ke Surabaya dan Jakarta. Lagi lagi tenaga kasar proyek bangunan merupakan pilihan utama, daripada menganggur. Apalagi mereka hanya berpendidikan antara SMP sampai dengan SMA saja, sehingga sulit bersaing mencari pekerjaan “kantoran”.

Biasanya ketika musim penghujan tiba, para pemuda ini kembali ke kampung halaman, untuk membantu mengolah lahan pertanian.

Giran menambahkan selama ini pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat, sangat jarang menggelontorkan program padat karya, dengan melibatkan masyarakat secara langsung. Ketika ada proyek, sering kali ditangani pemborong, itu saja sudah membawa pekerja sendiri.

Ia berharap kedepan pemerintah memperbanyak proyek swa kelola di tingkat desa, seperti jalan, embung maupun membuka simpul usaha baru, agar gelombang perpindahan warga dari desa ke kota atau urbanisasi, tidak semakin deras.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *