Flash News
No posts found

PSIR, DARURAT!!!!

Tiga pemain lokal Rembang. Dari kiri ke kanan, Suyono, Rapii dan Effendi. Mereka belum gajian, tapi Suyono lebih beruntung, karena berstatus PNS.

Tiga pemain lokal Rembang. Dari kiri ke kanan, Suyono, Rapii dan Effendi. Mereka belum gajian, tapi Suyono lebih beruntung, karena berstatus PNS.

Rembang – Hampir tiga bulan ini, para pemain PSIR Rembang belum gajian. Tetapi pihak manajemen gagal bertemu langsung dengan CEO PT Rembang Sportindo Mandiri, Kharis Kurniawan, selaku pengelola tim.

Manajer PSIR Rembang, Siswanto menuturkan tiap kali menghubungi melalui telefon selular, ingin menanyakan soal gaji pemain, sama sekali tidak pernah diangkat. Demikian juga saat kirim pesan pendek sms, Kharis Kurniawan yang menjadi asisten pribadi Bupati Rembang, Moch. Salim tersebut, tidak pernah membalas. Ia merasa kasihan terhadap pemain, karena mayoritas mereka mempunyai tanggungan keluarga.

Meski kendala dana semakin membelit tim, namun pemain sangat loyal, bertekad melanjutkan kompetisi. Termasuk ketika Christian Lenglolo cs hanya mampu bermain seri 1 – 1, menjamu PSM Makassar Sulawesi Selatan di Stadion Krida, Sabtu sore (14 September 2013). Pemain tetap semangat, belum ada satupun yang mengajukan keluar dan pindah ke klub lain. Siswanto menimpali akan berusaha sekuat tenaga, membereskan masalah tersebut. Apakah berencana meminta bantuan Bupati ? ia menjawab enggan merepoti orang nomor satu di kabupaten Rembang itu.

Siswanto mengklaim tak tahu menahu, berapa besar pemasukan tim dari sponsor. Hanya saja pria asal Kelurahan Tanjungsari Rembang ini menyadari ketiadaan subsidi dari penyelenggara kompetisi, membuat kalang kabut.

Apalagi belakangan jumlah penonton terus merosot. Bahkan menurut sebuah sumber R2B, pertandingan melawan Perseman Manokwari beberapa waktu lalu, uang hasil penjualan tiket penonton, hanya Rp 8,5 juta. Kemudian pertandingan melawan PSM Makassar, sedikit lebih baik yakni Rp 11,5 juta. Akibatnya untuk biaya pengamanan saja, masih tombok.

Tri Cahyo Rismawanto, selaku ketua panitia pelaksana pertandingan membenarkan pihaknya menanggung rugi. Tapi mau bagaimana lagi, yang namanya petugas keamanan, merupakan kebutuhan wajib, untuk menjaga situasi tetap terkendali. Mungkin solusinya, mengurangi petugas personel keamanan, agar pengeluaran bisa ditekan. Semisal jika rata rata jumlah personel 250 orang, disunat menjadi 100, tentu dengan tetap mempertimbangkan tingkat kerawanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *