Flash News
No posts found

Membatik, Banyak Gunakan Bahasa Isyarat

Guru SLB Lasem membimbing Khoirul Anwar, siswa penyandang tuna rungu wicara yang sibuk latihan membatik.

Guru SLB Lasem membimbing Khoirul Anwar, siswa penyandang tuna rungu wicara yang sibuk latihan membatik.

Lasem – Seorang bocah penyandang tuna rungu wicara lihai membatik. Bahkan karena ketekunannya, ia dikirim lomba membatik ke tingkat provinsi Jawa Tengah, mewakili kabupaten Rembang.

Anak berkebutuhan khusus ini adalah Khoirul Anwar (14 tahun), asal desa Pangkalan Kec. Sluke yang sekarang duduk di bangku kelas IX Sekolah Luar Biasa SLB Rembang Cabang Lasem.

Khoirul Anwar selama ini terkenal pintar menggambar. Meski laki laki, namun gerak lentik tangannya memainkan kuas terbilang cukup baik. Wali kelas IX, Erlia Yuni Astiwi menuturkan karena melihat bakat tersebut, pihaknya kemudian mengarahkan Khoirul Anwar untuk berlatih membatik. Kebetulan antara tanggal 16 – 19 September berlangsung lomba membatik antar siswa Sekolah Luar Biasa se Jawa Tengah di Semarang. Khoirul Anwar akhirnya menjadi pilihan pertama, untuk mewakili kabupaten Rembang. Tiap pagi dan siang, rutin digembleng secara khusus.

Guru membatik di SLB Cabang Lasem, Sofiyah menuturkan selama persiapan, anak cenderung kesulitan memegang canting atau alat membatik. Tetapi setelah diarahkan, lama kelamaan bisa memahami, bagaimana membuat pola dan mewarnai. Menurutnya memberikan materi kepada anak penyandang tuna rungu wicara, harus lebih sabar. Begitu mereka suka, pasti akan mudah membimbing, meski hanya melalui bahasa isyarat.

Sofiyah sendiri ingin membatik menjadi kegiatan ekstra kurikuler di SLB. Apalagi kalau kain batiknya bisa laku di pasaran, tentu merupakan nilai tambah bagi sekolah.

Salah satu orang tua murid di SLB Rembang Cabang Lasem, Siti Isrumiana mendukung gagasan itu.

Siti menimpali hampir setiap hari orang tua ikut menunggu anaknya belajar di sekolah. Guru kerap berkomunikasi tentang perkembangan anak, semisal tingkat konsentrasi, kenakalan maupun potensi bakat. Warga desa Kasreman Rembang ini menyadari banyak tantangan mengajari anak berkebutuhan khusus, salah satunya anak kerap mogok. Meski demikian, ia yakin terselip kemampuan tak terduga, dibalik keterbatasan fisik seseorang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *