Flash News
No posts found

Sumarno : “Kami Minta Izin Dicabut….”

Warga desa Tegaldowo Kec. Gunem, menggelar aksi demo, Rabu pagi.

Warga desa Tegaldowo Kec. Gunem, menggelar aksi demo, Rabu pagi.

Rembang – Ratusan warga desa Tegaldowo Kec. Gunem, hari Rabu (18 September 2013) menggeruduk gedung DPRD Rembang. Mereka menolak rencana pembangunan pabrik semen PT Semen Indonesia, karena khawatir aktivitas penambangan akan merusak lingkungan.

Pendemo datang dengan naik sejumlah truk. Tidak hanya kaum laki laki, tetapi banyak pula perempuan yang ikut dalam aksi ini, membentangkan sejumlah poster penolakan.

Sumarno, warga desa Tegaldowo Kec. Gunem selaku koordinator aksi menuturkan lokasi pabrik semen dan kawasan penambangan berada di titik cekungan putih. Kawasan tersebut harus dijaga, karena merupakan daerah resapan yang menunjang sejumlah sumber mata air, seperti Sumber Semen, Kajar, brubulan tahunan, brubulan pasucen dan beberapa mata air lain di sekitarnya. Kalau penambangan marak, masyarakat cemas terhadap ancaman penurunan debet air yang selama ini telah menjadi andalan. Sumarno meminta bantuan DPRD Rembang, mendesak Kementerian Kehutanan, untuk mencabut surat izin prinsip maupun surat izin pinjam pakai kawasan hutan yang diajukan PT Semen Indonesia.

Perwakilan pendemo ditemui sejumlah anggota DPRD dan pejabat terkait Pemkab Rembang.

Ketua Komisi A Bidang Pemerintahan DPRD Rembang, Ridwan menyatakan siap memfasilitasi tuntutan warga, supaya nantinya ada titik temu.

Beberapa pejabat Pemkab Rembang juga tak banyak memberikan penjelasan secara gamblang, alasannya sebagian besar proses perizinan berlangsung ditingkat pusat. Seusai dari gedung DPRD, massa bergerak menuju kantor Perhutani KPH Mantingan Rembang. Demo berlangsung aman, dengan penjagaan ketat aparat Polres Rembang.

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia, Agung Wiharto mengatakan izin penggunaan tanah hutan untuk tapak pabrik dan akses jalan di perbatasan desa Kajar – Pasucen, sudah ditandatangani oleh Kementerian Kehutanan. Pembebasan lahan untuk areal penambangan, juga terus berjalan dan ditargetkan mampu mengumpulkan 200 hektar pada tahap pertama. Bahkan Agung mengisyaratkan peletakan batu pertama pabrik, akan dilakukan secepatnya.

4 Komentar

  1. lukman hidayat

    dulu demo untuk pabrik semen segera di bangun sekaran berubah jadi menolak pabrik semen untuk di bangun…..harusnya masyarakat tegal dowo berfikir sebelum bertindak apa dampak positifnya dan apa dampak negatifnya harus di pertimbangkan sebelum kesepakatan terjadi jadi tidak merugikan investor dan warga itu sendiri

  2. husni

    Dulu sambil mabuk para timses pendirian pabrik semen menjanjikan muluk muluk tentang indahnya pabrik.. tak tahunya setelah melihat lokasi terdampak seperti dituban dan gresik pada ngeri… belum lagi setelah dikasih yang sesungguhnya bakal terjadi dengan nasib pertanian mereka.. para warga semakin resah dan twrancam masa depannya.. sebenarnya pt SG tidak usah menyembunyikan dampak dampak kwrusakan lingkungan yang terjadi. Juga tak perlu mwngwlabuhi petani dan warga dengan iming iming yanh muluk muluk. Katakan saja yg sebenarya bahwa warga hanya akan dibutuhkan pada saat pendirian pabrik saja satu hingga dua tahun. Begitu pabrik beroperasi maka yang bekerja adalah mesin dan para operatornya. Tidak terlalu banyak warga yang dipekerjakan. Mereka pelan pelan akan menganggur dan secra pelan pelan pula akan diusir dengan debu dan berbagai kebisingan dan getaran bunyi dinamit hingga 7km… hasil panen tidak bisa baik karena banyak debu mwrusak kembang padi saat dibuahi. Demikian juga air pertanian semakin sulit karena sumber bawah tanah dan batu kapur sdh hancur dan habis. Lambat laun mereka tidak kerasan tinggal dilokasi dan mwnjual tanah mereka kepada pihak pabrik.. jadilah tuan yang kehilangan lahan dan berpindah ke kota jadi pengangguran dikota.. semen tetap kaya raya dan selalu menghitung untung diakhir tahun juga pejabat didaerah selalu menrima remah remah setoran pabrik.. tapi para warga semakin sekarat dan akhirnya minggat.. bak ayam mati dilimbung padi… warga gunem, sale dan bulu bukan makan awu tapi sego… mereka bukan pemakan bleduk tapi udhuk… selamatkan bumi rembang dari kwserakahan dan kesewenang-wenangan para koruptor PAD…

  3. suko

    dulu yang demo pro pabrik semen bukan warga tegaldowo,tapi orang bayaran. jelas sekali, dikoran juga di muat bahwa itu orang bayaran, dan warga sudah pandai dan mengerti akan untung rugi dampak pabrik dan pertambangan pabrik semen, bahkan risiko yang luar biasa mengerikan,,,kudune wakil rakyat karo bupati ki mikir butuhane rakyat ora mung mikir waduke dewe…

  4. TENGU

    POKOKE TOLAK…!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *