Flash News
No posts found

Bermimpi Banyak Pemirsa, Tunggu Izin KPID

Kegiatan band SMAN I Rembang diambil gambarnya oleh seorang kameraman, sebagai latihan menuju SRTV.

Kegiatan band SMAN I Rembang diambil gambarnya oleh seorang kameraman, sebagai latihan menuju SRTV.

Rembang – Nasib stasiun televisi Smansa Rembang TV atau SRTV masih belum jelas, karena terkendala proses perizinan yang cukup rumit.

Guru kesenian SMAN I Rembang sebagai salah satu pemrakarsa SRTV, Dwi Priyono menjelaskan pihaknya sejak tahun 2010 merancang pembentukan stasiun televisi komunitas pendidikan. Tepatnya tanggal 01 Juli 2012, gagasan tersebut semakin dimatangkan dengan mendaftarkan nama lembaga ke Kementerian Hukum Dan HAM, agar memperoleh legalitas hukum. Setelah sempat studi banding ke beberapa stasiun TV komunitas, sekolah baru mantap mengajukan perizinan kepada Komisi Penyiaran Indonesia Daerah KPID Jawa Tengah. Tetapi sampai hari Jumat (20 September 2013) izin belum turun. Masih ada beberapa tahapan yang harus dilewati, agar SRTV bisa siaran.

Menurut Dwi, pihaknya ingin keberadaan stasiun televisi tidak sekedar menampung bakat siswa di dunia penyiaran, tetapi akan memberikan andil terhadap perkembangan dunia pendidikan kabupaten Rembang. Apalagi belakangan banyak sekali tayangan televisi swasta yang kurang mendidik, sehingga SRTV diharapkan mampu menjadi penyeimbang, melalui materi siaran pendidikan, agama maupun seni budaya.

Salah satu siswa sekaligus kepala kruw Smansa Rembang TV, Alvian Dwi Putranto mengatakan selama ini bersama sejumlah siswa lain sudah mencoba membuat program acara yang berisi kegiatan ekstra kurikuler. Alvian bermimpi SRTV akan menjelma sebagai stasiun televisi yang memiliki banyak pemirsa. Semangat itu selalu ia sampaikan kepada adik adik kelasnya, supaya mereka tergugah untuk menciptakan sebuah karya. Begitu TV sudah mulai siaran, siswa tidak kaget beradaptasi.

Alvian Dwi Putranto menyadari butuh dana besar menghidupkan stasiun TV komunitas. Apalagi status SMAN I Rembang sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional atau RSBI sudah dicabut, sehingga sokongan dana dari pemerintah berkurang. Hal ini menjadi tantangan, bagaimana menarik sponsor lokal, untuk meringankan biaya operasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *