Flash News
No posts found

Dua Orang Tewas, Warga Minta Kejelasan

Munaji, warga desa Glebeg Kec. Sulang menunjukkan obat yang dibeli isterinya.

Munaji, warga desa Glebeg Kec. Sulang menunjukkan obat yang dibeli isterinya.

Sulang – Warga desa Glebeg Kec. Sulang resah terhadap peredaran obat yang diduga ilegal dan dipasarkan oleh sejumlah kelompok. Apalagi setelah ada dua orang warga meninggal dunia, usai mengkonsumsi obat tersebut. Meski sampai sekarang belum bisa dipastikan apakah kematian korban, karena pengaruh obat atau sebab lain.

Awalnya ada kelompok mengatasnamakan beberapa lembaga swadaya masyarakat, menggelar sosialisasi tentang penyakit mata dan kanker di desa Glebeg Kec. Sulang. Banyak warga tertarik, kemudian membeli obat mata seharga Rp 135 ribu per botol. Tak berselang lama, muncul lagi kelompok lain menjajakan obat, langsung ke rumah rumah penduduk. Mereka ada yang mengaku dari Jawa Barat, Blora, bahkan ada pula dari Jawa Timur.

Munaji, Ketua RT 04 RW 01 desa Glebeg Kec. Sulang mengaku isterinya, Pasri sempat membeli obat pegal linu dan obat mencegah penyumbatan pembuluh darah seharga Rp 295 ribu. Sales obat berjanji lain hari akan datang lagi, untuk memantau perkembangan. Tapi sampai sekarang tidak tampak batang hidungnya. Sang isteri hanya sekali minum obat, gara gara mendengar kabar dua orang warga desa Glebeg meninggal dunia, seusai minum obat itu. Kejadian tersebut membuat masyarakat takut.

Munaji menambahkan beberapa warga lain juga sudah mengeluarkan uang sampai Rp 3 juta lebih, untuk membeli obat. Ia berharap kepada pihak terkait, segera menyelidiki kandungan obat, sehingga warga memperoleh kejelasan.

Tokoh masyarakat desa Glebeg, Janadi Hadi Nugroho mengatakan penjualan obat laris manis, lantaran penjual masuk melalui pengurus RT, dibarengi dengan mengumpulkan warga. Ia sebenarnya sudah berulang kali mengingatkan supaya hati hati, kalau bisa jangan membeli. Tapi banyak yang tidak percaya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Ali Syofii ketika dikonfirmasi menegaskan pihaknya sama sekali tidak memberikan izin kepada siapapun, untuk mengedarkan obat ke pelosok pedesaan. Ia langsung memerintahkan Puskesmas Sulang datang mengecek, bahkan kalau perlu DKK siap berkoordinasi dengan Badan pengawas Obat Dan Makanan BPOM Semarang.

Ali Syofii menghimbau masyarakat memanfaatkan sarana berobat di dokter, Puskesmas atau rumah sakit. Apalagi sekarang sudah ada layanan pengobatan gratis. Ia khawatir jika masyarakat membeli obat sembarangan tanpa resep, bukannya sembuh, justru akan membahayakan kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *