Flash News
No posts found

Sungai Bawah Tanah, Pabrik Semen Dan Kekeringan

Seorang aktivis JMPPK menyusuri sungai bawah tanah di dalam gua yang sempit, wilayah perbukitan dusun Wuni desa Kajar Kec. Gunem.

Seorang aktivis JMPPK menyusuri sungai bawah tanah di dalam gua yang sempit, wilayah perbukitan dusun Wuni desa Kajar Kec. Gunem.

Gunem – Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) menemukan sebuah aliran sungai bawah tanah di perbukitan sebelah timur dusun Wuni desa Kajar Kec. Gunem. Lokasi sumber air tergolong cukup dekat dengan calon tapak pabrik semen PT Semen Indonesia dan tanah untuk penambangan.

Awalnya para pegiat lingkungan itu mendengar keberadaan sungai bawah tanah dari cerita penduduk setempat, tetapi tidak ada seorangpun warga yang berani mengecek langsung, karena lokasinya cukup terjal.

Sekira 10 orang aktivis Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng bersama Kepala Dusun Wuni, Sono kemudian mencoba melakukan penjelejahan. Sungai bawah tanah baru ketemu, setelah 5 orang masuk gua vertikal selebar setengah meter dari atas bukit dan turun sedalam 150 meter.

Sudomo, salah satu aktivis Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng asal desa Pamotan Kec. Pamotan mengatakan air sungai sangat jernih. Tetapi di dalamnya banyak sekali kelelawar dan ditemukan pula ular. Penyelaman tidak sampai tuntas, karena harus mempertimbangkan keselamatan.

Sudomo menambahkan kondisi tersebut ironis apabila dibandingkan nasib warga dusun Wuni desa Kajar, yang mengalami kesulitan air bersih setiap musim kemarau. Warga bahkan mengambil air dari desa Waru, ikut wilayah kabupaten Blora, berjarak hampir dua kilo meter. Menurutnya, pemerintah perlu mengoptimalkan sumber air itu untuk kepentingan masyarakat.

Aktivis pegiat lingkungan dari Tawangsari Rembang, Ming Ming Lukyarti menganggap temuan sungai bawah tanah menunjukkan bahwa banyak sumber air tak terduga di perbukitan kapur yang harus dilindungi. Kalau terjadi penambangan besar besaran untuk menyuplai bahan baku semen, wajar apabila muncul kecemasan aliran air akan mengering. Apalagi diperkirakan sungai bawah tanah itu, masih satu jalur dengan sejumlah mata air lainnya, termasuk Sumber Semen Sale yang menjadi andalan belasan ribu pelanggan perusahaan daerah air minum PDAM.

Sebelumnya, saat aksi demo warga menolak pabrik semen di gedung DPRD Rembang, Rabu lalu, Wakil Ketua DPRD Rembang, Catur Winanto menyarankan supaya diadakan pertemuan lanjutan antara warga, kalangan pecinta lingkungan, satuan kerja terkait, penyusun analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dan investor PT Semen Indonesia. Harapannya kekhawatiran warga bisa terjawab oleh tim ahli.

1 Komentar

  1. mul

    Pengen bergabung sama pencinta lingkungan Rembang ,,,tlg aku di hub lewat Facebookku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *