Flash News
No posts found

Pengecer Tidak Kompak, Stok Terancam Ludes

Haryanto, dari Petrokimia Gresik memaparkan kuota pupuk bersubsidi di aula kantor Badan Ketahanan Pangan Dan P4K Rembang, Kamis siang.

Haryanto, dari Petrokimia Gresik memaparkan kuota pupuk bersubsidi di aula kantor Badan Ketahanan Pangan Dan P4K Rembang, Kamis siang.

Rembang – Masih banyak pengecer pupuk di kabupaten Rembang yang nekat menjual urea saja, enggan menerapkan sistem paket, sesuai anjuran Kementerian Pertanian. Pengecer berdalih didesak para petani yang merasa keberatan, sehingga terpaksa melakukan hal itu.

Tapi jajaran Pemkab Rembang bersikukuh program pupuk sistem paket harus dilanjutkan, supaya petani terbiasa melakukan pemupukan berimbang. Tujuannya untuk meningkatkan produksi gabah 8 ton gabah kering panen per hektar, sebagaimana siaran pers dari Komisi Pengawasan Pupuk Dan Pestisida (KP3) Kab. Rembang.

Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop Dan UMKM Kab. Rembang, Sugiyanto saat sosialisasi pupuk bersubsidi di aula Badan Ketahanan Pangan Dan P4K, hari Kamis (13 Februari 2014) menyebutkan hasil monitoring ke sejumlah pengecer, masih sering dijumpai mereka menjual pupuk urea saja.

Ia mencontohkan pengecer di kecamatan Sluke, stok Phonska dan SP 36 menumpuk, bahkan lebih dari 5 ton, gara gara petani hanya mau membeli urea saja. Pengecerpun kebingungan. Menurutnya salah pengecer tidak memberlakukan aturan dengan ketat. Maka pihaknya mendorong agar sosialisasi pemupukan berimbang melalui pupuk sistem paket, terus ditingkatkan.

Sementara itu, Haryanto, Supervisor PT Petrokimia Gresik wilayah Karesidenan Pati meminta distributor dan pengecer mengawal penyaluran pupuk bersubsidi, karena realisasi permintaan pupuk terus meningkat. Pihaknya tak ingin dianggap oleh Badan Pemeriksa Keuangan melakukan penggelembungan subsidi secara sistematis. Karena kenyataannya memang melambung, PT Petrokimia Gresik harus meminta surat rekomendasi dari Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Rembang, semisal berisi keterangan tambahan luas tanam.

Haryanto memperinci di kabupaten Rembang, sejak bulan Januari hingga 12 Februari 2014 saja, pupuk urea dari kuota 16.578 ton sudah terserap 5.296 ton, kemudian ZA 5.937 ton terserap 2.500 ton, SP 36 3.287 ton terserap 2.125 ton, phonska 10.885 ton terserap 6.195 ton dan petroganik dari kuota 6.365 ton sudah terealisasi ke petani 2.409 ton. Maka ia menyarankan Distanhut untuk mencoba mengusulkan tambahan pada pertengahan tahun ini, khawatir dalam jangka waktu 4 bulan stok akan habis. Jangan sampai ketika petani mengajukan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) belakangan, justru tidak kebagian.

Kala itu pada tahun 1989 lalu, pernah muncul kejadian petani nekat langsung mendatangi gudang ingin membeli pupuk, lantaran kelangkaan parah. Harapannya tidak terulang kembali. Terkait penjualan pupuk sistem paket, Haryanto mengingatkan sudah diatur dalam tata niaga pupuk.

Sebagaimana kami beritakan, kalangan petani di kabupaten Rembang resah terhadap penjualan pupuk sistem paket. Bahkan perwakilan petani dari desa Panohan Kec. Gunem mengancam akan berdemo memprotes kebijakan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *