Flash News
No posts found

Pantura Rembang Dipanaskan Tolak Pabrik Semen

Warga dihadang barikade polisi, saat akan masuk gedung DPRD Rembang. (Gambar atas) aksi teatrikal pendemo di tengah jalur Pantura.

Warga dihadang barikade polisi, saat akan masuk gedung DPRD Rembang. (Gambar atas) aksi teatrikal pendemo di tengah jalur Pantura.

Rembang – 400 an warga, hari Rabu (19 Februari 2014) menggelar aksi demo, menolak rencana pembangunan pabrik semen.

Massa kebanyakan berasal dari desa Tegaldowo, Timbrangan dan Kajar Kec. Gunem, bertempat tinggal di sekitar calon lokasi tapak pabrik PT Semen Indonesia. Tidak hanya kaum pria, kalangan ibu ibu juga tidak mau ketinggalan, menyuarakan aspirasi. Mereka khawatir aktivitas penambangan besar besaran, akan berdampak buruk terhadap kelestarian lingkungan dan mengancam sumber mata air di bawah pegunungan watu putih.

Kenapa baru sekarang beraksi ? salah satu koordinator pendemo, Nugroho berdalih selama ini kurang sosialisasi. Bahkan cenderung tidak transparan, konon pada saat pembebasan lahan, akan digunakan untuk perluasan hutan dan pengayaan pohon jarak, bukan untuk pabrik semen.

Massa semula berjalan kaki dari Alun Alun Rembang, sambil menggelar aksi teatrikal. Begitu sampai Tugu Adipura, depan gedung DPRD Rembang, massa membakar replika keranda jenazah, sebagai wujud matinya kepedulian pemerintah. Akibatnya arus lalu lintas di jalur Pantura menjadi tersendat.

Situasi memanas, karena satu jam lebih, tidak ada perwakilan DPRD maupun Pemkab Rembang yang mau keluar menemui massa. Warga sempat ingin menerobos masuk gedung dewan, namun bisa dihadang barikade aparat kepolisian.

Akhirnya Sekretaris Daerah Rembang, Hamzah Fathoni dan Ketua DPRD, Sunarto mau keluar dari dalam gedung DPRD. Hamzah fathoni menyampaikan analisis mengenai dampak lingkungan atau Amdal pembangunan pabrik sudah beres. Izin lingkungan juga telah disetujui Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo kala itu. Hamzah menegaskan instansi terkait maupun investor sering sosialisasi mengenai rencana tersebut.

Karena merasa kecewa, massa kemudian membaca tahlil di tengah jalur Pantura. Mereka mendesak DPRD Rembang membentuk panitia khusus (Pansus) untuk mempertemukan warga dengan manajemen PT Semen Indonesia. Kalau tidak, aksi susulan siap digeber. Seusai tahlil, massa membubarkan diri.

2 Komentar

  1. GARONK REMBANG

    Rembangku sayang Rembangku malaang… turut berduka atas air mata dan kekecewaan …bapak=bapak pimpinan tolong mereka juga warga Rembang mbok yaa di tetap di rangkul untuk dicari jalan keluarkan.. jangan biarka dendam membara di bumi Tegaldowo untuk 10 tahun ,20 tahun ke depan jangan warisi anak cucu Tegaldowo dendam… itulah PR besarrr yang PARA PEMIMPIN DI REMBANG….HAYOOOO SIAPA YANG MAU MENAJUKAN JADI CALEG DAN CABUB REMBANG …. BISAKAH MENGAYOMI DAN MENGAKOMODIR keresahan dan kemarahan kekecewaan PUTRA-PUTRA Tegal dowo…..CAMKAN KAN ITU WAHAI CALEG DAN CABUB yang sat ini sudah kampanye…

  2. BERTRAND

    Ayo tetap jaga keseimbangan alam,,jgn mikir komisi wae tho,,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *