Flash News
No posts found

Petani Mengeluh, Tak Seperti Zaman Orde Baru

Salah satu pintu air di Kec. Kaliori mangkrak, karena jalur sudah buntu.

Salah satu pintu air di Kec. Kaliori mangkrak, karena jalur sudah buntu.

Sumber – Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Sambongrejo mendesak balai besar sungai BBS Pemali – Juwana, untuk segera mengeruk sedimentasi atau pendangkalan yang cukup parah di Bendung Kedungsapen desa Jatihadi Kec. Sumber.

Ketua P3A Sambongrejo, Markum menjelaskan pengerukan terakhir hanya sepanjang 50 an meter, dari lokasi bendung. Padahal ia berharap supaya pengerukan efektif, paling tidak mencapai 2 – 3 kilo meter, sehingga air yang masuk lebih banyak tertampung. Untuk menyiasati supaya tingkat sedimen tidak terus bertambah, Markum berkoordinasi dengan penjaga bendung. Sewaktu waktu terjadi banjir besar, pintu air langsung dibuka.

Saat banjir besar kemarin sudah pernah dicoba. Hasilnya, endapan lumpur menyebar ke saluran irigasi, tidak sampai terpusat pada lokasi bendung.

Bendung Kedungsapen mustinya mampu mengairi lahan 1.400 an hektar lebih di kecamatan Sumber dan Kaliori.

Belakangan air hanya sampai di desa Wiroto Kec. Kaliori. Air sulit menjangkau ke desa Tambakagung dan Dresi Kulon.

Salah satu petani desa Dresi Kulon Kec. Kaliori, Sumani mengatakan banyak saluran buntu, sampai sekarang tidak pernah ada normalisasi. Akibatnya hasil panenan menurun, bahkan sering kali petani tidak bisa melakukan tanam padi ke dua atau walik dami, gara gara pasokan air sangat minim.

Sumani menambahkan pada masa orde baru, masalah irigasi dan infrastruktur pertanian, menjadi prioritas penanganan pemerintah. Tapi sekarang, penataan terfokus pada saluran primer atau yang besar saja. Sedangkan bagian hilir, saluran sekunder maupun tersier diabaikan. Menurutnya kalau pemerintah membidik target swa sembada beras, irigasi hulu sampai hilir harus benar benar diperhatikan.

1 Komentar

  1. berita rembang

    memang benar
    meskisekrg sudah banyakyg cair
    tpi kendla tanggungjawab ditingkat personalia yang lemah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *