Flash News
No posts found

Suram, Mulai Bosan Membuat Garam

Seorang pekerja tambak di desa Tireman Rembang, memeriksa kondisi udang vanamei.

Seorang pekerja tambak di desa Tireman Rembang, memeriksa kondisi udang vanamei.

Rembang – Sejumlah petambak di Rembang semakin tertarik mengembangkan udang vanamei, daripada harus tetap bertahan membuat garam.

Salah satunya di areal tambak sebelah timur desa Tireman Rembang, kini disulap menjadi pusat budidaya udang vanamei. Seorang pekerja tambak udang, Ahmad Toha, warga desa Tritunggal memperkirakan kalau memproduksi garam, dalam setahun hanya meraup penghasilan Rp 25 juta, lantaran rawan permainan harga tengkulak. Tetapi setelah dialihfungsikan untuk udang vanamei, petambak mendulang ratusan juta rupiah.

Ahmad Toha menambahkan tambak udang belakangan ini bertambah luas, setelah melihat prospeknya kedepan sangat bagus. Apalagi pasar ekspor udang terbuka lebar dan menantikan pasokan barang dari para petambak. Soal penyakit, menurutnya bisa diantisipasi, asalkan benar benar memperhatikan pengolahan lahan, tingkat keasaman air, pengaturan pakan dan ketersediaan oksigen yang cukup.

Udang vanamei mulai menjadi primadona petambak, sejak lima tahun silam. Vanamei sudah bisa panen saat berumur 3 bulan. Harganya juga lumayan tinggi, 1 kilo gram isi 41 ekor, dibeli oleh perusahaan rekanan seharga Rp 141 ribu. Tapi pemain udang vanamei di kabupaten Rembang, umumnya pemodal besar.

Suwardi, warga pesisir desa Tasiksono Kec. Lasem mengaku tetap menggarap tambak garam, karena kalau membudidayakan udang vanamei, butuh biaya besar. Ia berharap pemerintah memfasilitasi pembentukan kelompok, seperti di pesisir desa Sluke, sehingga ekonomi masyarakat lebih berdaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *