Flash News
No posts found

Siap Berjihad, Anggap Mati Syahid

Sebuah alat berat berada di akses jalan masuk menuju pabrik semen, tengah hutan wilayah Gunem.

Sebuah alat berat berada di akses jalan masuk menuju pabrik semen, tengah hutan wilayah Gunem.

Gunem – Manajemen PT Semen Indonesia memperkirakan pada bulan Mei 2014 mendatang, akan mulai membangun pabrik semen di kawasan tengah hutan, sebelah barat desa Kajar Kecamatan Gunem.

Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia, Agung Wiharto menjelaskan pihaknya menghargai gelombang penolakan dari sebagian masyarakat. Namun rencana pendirian pabrik semen tetap berjalan. Agung beralasan akhir akhir ini banyak sekali perusahaan semen asing masuk ke Indonesia, dengan membangun pabrik di pulau Jawa maupun Kalimantan, seperti Siam Cement, Anhui Conch, Juishin dan Panasia. Kalau pihaknya sebagai perusahaan plat merah kalah cepat, industri semen nasional bisa dikuasai oleh pemain asing.

Kepala Desa Kadiwono Kec. Bulu, Ahmad Ridwan mengatakan kawasan Songkel Mereng, selatan desa Kadiwono menjadi akses utama keluar masuk alat alat berat. Belakangan jumlah alat berat yang datang, terus bertambah. Selain itu petugas PLN juga sempat mengirimkan surat tembusan, adanya pemasangan tiang listrik dan instalasi jaringan dari pinggir jalan raya Rembang – Blora menuju calon lokasi pabrik, menunjukkan tanda tanda pendirian pabrik semakin menguat. Ridwan mendukung rencana tersebut, asalkan investor memprioritaskan tenaga kerja lokal, mengurangi ancaman polusi dan jangan mengebor sumber air untuk keperluan operasional pembuatan semen, karena dikhawatirkan rawan mematikan air tanah yang telah menjadi gantungan warga.

Sementara itu Sumarno, warga desa Tegaldowo Kec. Gunem menyatakan apapun alasannya, tetap menolak pendirian pabrik semen. Sudah cukup lama, warga menantikan informasi seluas luasnya, audiensi terbuka antara investor dengan masyarakat. Beberapa kali dalam aksi demo menuntut pemerintah membantu memfasilitasi. Tapi sampai sekarang belum terlaksana. Kalau kelak terjadi kisruh, menurutnya pemerintah layak disalahkan. Ia menganggap perjuangan demi kelestarian lingkungan, kalaupun harus mati merupakan mati syahid. Baginya tidak masalah.

Sumarno menimpali masalah pabrik semen tidak hanya menjadi isyu sekitar desa Kajar, Timbrangan, Pasucen dan Tegaldowo saja, tapi sudah merupakan isyu tingkat kabupaten Rembang dan juga Blora, sebagai daerah perbatasan. Kubu penolak terus menggalang kekuatan, bertekad menggagalkan pembangunan pabrik semen.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *