Flash News
No posts found

Tangis Pecah, Suami Terintimidasi Di Penjara

Nunuk Dini Wuryanti, isteri Abdul Muttaqin mengusap air matanya. (Gambar atas) Isteri Abdul Muttaqin menggelar jumpa pers didampingi pengacara Darmawan Budiharto dan Koordinator Lespem, Bambang Wahyu Widodo.

Nunuk Dini Wuryanti, isteri Abdul Muttaqin mengusap air matanya. (Gambar atas) Isteri Abdul Muttaqin menggelar jumpa pers didampingi pengacara Darmawan Budiharto dan Koordinator Lespem, Bambang Wahyu Widodo.

Rembang – Pihak keluarga berharap kepada majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang, agar Abdul Muttaqin dipindah dari Lembaga Pemasyarakatan Kedungpane Semarang ke Rumah Tahanan Rembang, karena diduga Abdul Muttaqin kerap menerima intimidasi dari terdakwa maupun terpidana korupsi lain.

Sebelumnya Abdul Muttaqin, dimasukkan ke dalam LP Kedungpane sejak tanggal 02 April 2014 lalu, seusai sidang pertama. Muttaqin merupakan pegawai Dinas Energi Sumber Daya Mineral ESDM Kab. Rembang yang menjadi terdakwa kasus korupsi peningkatan jalan antara desa Wonokerto Kec. Sale hingga desa Tegaldowo Kec. Gunem, dengan kerugian negara sebesar Rp 1,52 miliar.

Dalam jumpa pers di rumah makan Pondok Asri Jl Dr Wahidin Rembang, hari Senin (07 April 2014) isteri Abdul Muttaqin, Nunuk Dini Wuryanti (37 tahun) warga Tawangsari Kelurahan Leteh Rembang mengaku sempat kaget karena suaminya berada di blok tahanan pidana umum, bukan blok tindak pidana korupsi. Berulang kali Muttaqin menyatakan stres, sering melihat ketegangan antar penghuni sel. Belakangan ada tawaran dari Siswadi, mantan Direktur PT Rembang Bangkit Sejahtera Jaya (RBSJ), bisa pindah ke blok Tipikor, asalkan harus menuruti arahan dari mantan Bupati Rembang, Moch. Salim yang juga berada di dalam LP Kedungpane.

Sambil menangis terisak isak, Nunuk membeberkan dalam sebuah rapat kecil di LP Kedungpane, Abdul Muttaqin juga diminta mencabut testimoninya beberapa waktu lalu, yang mencantumkan dugaan keterlibatan banyak pihak dalam proyek jalan tersebut. Selain itu, penasehat hukum Muttaqin harus diganti. Jika semula dipegang Dharmawan Budiharto, kini digantikan Karyono, dengan alasan kesulitan biaya. Nunuk Dini Wuryanti dan Abdul Muttaqin terpaksa menandatangani surat pencabutan kuasa hukum, meski tidak sesuai dengan hati nuraninya. Hal itu ia lakukan semata mata demi keselamatan sang suami dibalik jeruji besi.

Pengacara Dharmawan Budiharto menganggap pencabutan kuasa hukum dibawah tekanan. Soal biaya, ia tidak pernah mempermasalahkan. Kalaupun tidak mendapatkan bayaran, Dharmawan rela, yang terpenting kliennya berani mengungkap kebenaran.

Menurutnya, Abdul Muttaqin adalah figur utama dalam kasus dakwaan korupsi itu. Ia selaku pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek, bisa memberikan keterangan yang memberatkan di persidangan, sehingga memungkinkan muncul tersangka baru. Ada kelompok berambisi ingin merekayasa kesaksian Muttaqin, agar penanganan kasus berhenti di dua tersangka, yakni Abdul Muttaqin dan Kepala Dinas ESDM, Agus Supriyanto.

Sampai Senin sore, belum ada pihak terkait yang memberikan tanggapan. Pengacara Karyono, ketika dihubungi beberapa kali melalui sambungan telefon, sama sekali tidak menjawab.

3 Komentar

  1. sukur

    YO salim karo siswadi nge-Genk di kedungpane.. tidak heran kalo LESPEM meminta memindah proses hukum salim di jakarta.. dan menempatkan Abdul Mutaqin di kedungpane satu lokasi dengan salim hanyalah membesarkan dan memudahkan kekuasaan salim untuk mengatur kasus hukumnya!!!! yang begini ini juga bentuk pelanggaran manejemen Lapas pak Hakim dan sudah mengarah pada upaya tertentu untuk tujuan tertentu!!

  2. paijo

    salim….salim…..kowe kok ora sadar leh yo…yo…..

  3. themin

    Bupati TAEK

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *