Flash News
No posts found

Peluang Menggiurkan Ke Jepang Dicuekin, Sebabnya?

Sejumlah siswa SMK di Rembang sibuk praktek. Mereka enggan memanfaatkan peluang magang ke Jepang.

Sejumlah siswa SMK di Rembang sibuk praktek. Mereka enggan memanfaatkan peluang magang ke Jepang.

Rembang – Program magang ke Jepang yang dibuka oleh Dinas Sosial Tenaga Kerja Dan Transmigrasi kabupaten Rembang, sepi peminat.

Menjelang penutupan pendaftaran tanggal 15 April 2014, hanya ada seorang pendaftar, yakni Abdul Kusnin Quluk, warga desa Dowan kecamatan Gunem.

Kepala Seksi Pelatihan Dan Produktivitas Dinsosnakertrans Kab. Rembang, Puji Harini menjelaskan pihaknya sudah berupaya menggencarkan sosialisasi melalui media, kemudian juga turun langsung ke sekolah sekolah SMK, menyampaikan kesempatan magang ke Jepang. Tapi hal itu belum mampu menarik para pemuda. Ia menduga karena biaya pelatihan selama dua bulan berada di Semarang, tes kesehatan maupun pengurusan paspor, harus ditanggung peserta sendiri, menjadi salah satu kendala. Apalagi masih ada anggapan di tengah sebagian masyarakat, makan tidak makan, asalkan dekat dengan keluarga, tak perlu jauh jauh merantau sampai ke luar negeri.

Peserta magang ke Jepang musti melewati banyak tahapan seleksi. Mulai dari persyaratan tekhnis, meliputi usia antara 20 – 26 tahun, minimal lulusan SLTA sederajat dan memenuhi persyaratan administrasi. Kalau lolos, wajib tes kesemaptaan tubuh, tes matematika dasar, tes ketahanan fisik, seperti lari sejauh 3.000 meter dalam waktu 15 menit, push up 35 kali dan sit up 25 kali. Setelah itu, dilanjutkan tes wawancara, kesehatan dan tes bahasa Jepang.

Nantinya peserta magang berada di Negeri Sakura selama 3 tahun. Terdapat 59 jenis latihan kerja di Jepang yang bisa dimanfaatkan untuk menimba ilmu, semisal konstruksi bangunan, mebelair, permesinan, perusahaan elektronik dan masih banyak lagi yang lain.

Tapi begitu selesai kontrak, peserta magang mempunyai kesempatan bekerja di perusahaan Jepang, yang berada di sana maupun di Indonesia. Menurut Puji Harini, selama ini sebagian besar peserta magang, ketika kembali ke Indonesia, sukses. Tentu upaya kerja sama antar kedua negara tersebut, diharapkan mampu mengurangi angka pengangguran.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *