Flash News
No posts found

Demo 5 Desa, Tuntut Kasat Reskrim Dicopot

Massa berdemo di lahan sebelah selatan pelabuhan Tanjung Bonang, dengan mengusung berbagai macam poster tuntutan.

Massa berdemo di lahan sebelah selatan pelabuhan Tanjung Bonang, dengan mengusung berbagai macam poster tuntutan.

Sluke – Sekira 150 an warga, Minggu pagi (13 April 2014) menggelar aksi demo di lokasi lahan, sebelah selatan Pelabuhan Tanjung Bonang desa Sendangmulyo Kec. Sluke. Massa berasal dari lima desa, meliputi warga Blimbing, Sendangmulyo, Bendo, Manggar dan desa Labuhan Kidul.

Sebelumnya, anggota Polres Rembang, dipimpin Kasat Reskrim Polres, AKP Joko Santoso, hari Sabtu mendatangi lokasi pengambilan tanah uruk, selatan pelabuhan. Peringatan pernah diluncurkan, tapi tak digubris. Aparat akhirnya memasang garis polisi, mengitari alat berat beckhoe.

Kapolres Rembang, AKBP Muhammad Kurniawan beralasan usaha tambang belum berizin. Selain itu kendaraan pengangkut bahan tambang yang menyeberang jalur pantura, tak laik jalan. Menurutnya polisi sebatas menegakkan aturan.

Praktis setelah pemasangan garis polisi, banyak pekerja dari sejumlah desa menganggur dan melampiaskan kekesalan dengan aksi demo. Massa membawa poster bernada kecaman, langsung ditempelkan ke alat berat.

Warga desa Labuhan Kidul, Sudar menganggap tindakan Kasat Reskrim Polres Rembang sewenang wenang. Ia menunjukkan sebuah poster menuntut AKP Joko Santoso dicopot dari jabatannya sebagai Kasat Reskrim, karena meresahkan masyarakat.

Widagdo, warga lain dari desa Sendangmulyo mengatakan pengerukan lahan, rencananya akan digunakan untuk pembangunan pabrik PT Semen Indonesia Rembang (SIR). Setelah tanah naik truk, memang digunakan menguruk proyek pelabuhan. Sejak awal PT SIR mengurus izin penataan lahan, bukan penambangan. Kalau tidak diratakan, Widagdo menimpali investor kesulitan mendirikan bangunan di atas bukit. Waktu itu perwakilan PT SIR sempat menunjukkan izin dari Dinas Energi Sumber Daya Mineral kepada polisi, namun polisi ngotot masih kurang.

Ditengah tengah aksi demo, Kapolsek Sluke AKP Joko Purnomo menemui warga. Ia menyampaikan supaya perwakilan pendemo datang ke Rembang, bertemu Kapolres.

Sejauh ini, Polres belum melepas garis polisi yang mengelilingi alat berat beckhoe. Pihak kepolisian memastikan kalau izin sudah beres, garis polisi baru dilepas.

Bukan hanya kali ini saja, beberapa waktu lalu, Kasat Reskrim Polres Rembang, AKP Joko Santoso juga pernah menghentikan penambangan tanah uruk di desa Langgar Kec. Sluke, karena belum berizin. Bahkan 4 unit dump truk berisi tanah diamankan, tapi entah kenapa, belakangan keempat truk dilepaskan lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *