Flash News
No posts found

Belasan Pendaftar Tidak Lolos, Berkas Amburadul

Petugas Polres Rembang memeriksa berkas persyaratan seorang pendaftar Polwan.

Petugas Polres Rembang memeriksa berkas persyaratan seorang pendaftar Polwan.

Rembang – 12 orang pendaftar calon Brigadir Polri dinyatakan tidak lolos dalam seleksi administrasi awal, ditingkat Polres Rembang. Panitia mengumumkan informasi tersebut Senin sore (21 April 2014).

Mereka tidak lolos, karena dua sebab. Diantaranya 10 orang tidak hadir dalam pemberkasan dan dua lainnya, berkas masih amburadul. Dari hasil tersebut, maka 251 orang pendaftar lolos seleksi administrasi awal. Rinciannya 166 laki laki dan 85 wanita.

Kepala Bagian Sumber Daya Polres Rembang, Kompol Yohan Setiajid menuturkan khusus masalah berkas tidak lengkap, pendaftar terkesan menyepelekan. Banyak dokumen asli tidak disertakan, sedangkan bukti legalisasi terakhir, terhitung sudah cukup lama.

Bagi yang lolos, mereka akan melanjutkan tes di Polda Jawa Tengah, meliputi pemeriksaan kesehatan tahap I dan II, kemudian tes psikologis dan akademis. Pendaftar laki laki mulai menjalani tes pada tanggal 26 April 2014, sedangkan untuk pendaftar Polwan mendapatkan giliran tanggal 01 Mei mendatang.

Kelak setelah dipastikan lolos Pantokir, calon Brigadir Polri akan menjalani pendidikan di sekolah polisi negara selama 7 bulan. Untuk tempat tugas, belakangan ini sering kali ditempatkan ke daerah sendiri.

Disela sela tes berjalan, Polres Rembang juga mengerahkan tim khusus, mengecek latar belakang pendaftar. Tujuannya untuk memastikan status mereka. Sejak awal bagi yang sudah pernah menikah dilarang mendaftarkan diri. Tentu Polres tak ingin kecolongan.

Kompol Yohan Setiajid kembali mengingatkan para peserta dan orang tua masing masing, agar tidak mudah terpancing bujuk rayu seseorang yang mengaku mampu meloloskan menjadi Brigadir Polri. Aksi semacam itu merupakan bentuk penipuan.

1 Komentar

  1. dwi anggoro

    praktek media yang bisa yang bisa meloloskan calon brigadir atau apapun,apakah bisa di antisipasi Ndan…
    saya mendengar sudah sangat umum praktek ini justru pelakunya orang2 dalam,bisakah di sampaikan ke publik kalo masalah ini bisa di dengar masyarakat luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *