Flash News
No posts found

Dislutkan Tak Mau Gegabah, Nelayan Salahkan SPBN

Nelayan menampung solar di dalam dek kapal. (gambar atas) Kapal mengisi solar dari colt bak terbuka di dermaga pelabuhan Tasikagung, Jumat siang 25 April 2014.

Nelayan menampung solar di dalam dek kapal. (gambar atas) Kapal mengisi solar dari colt bak terbuka di dermaga pelabuhan Tasikagung, Jumat siang 25 April 2014.

Rembang – Dinas Kelautan Dan Perikanan Kab. Rembang tidak akan gegabah memperpanjang surat rekomendasi nelayan, untuk keperluan membeli bahan bakar solar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Kepala Dinas Kelautan Dan Perikanan Kab. Rembang, Suparman menjelaskan SPBU merupakan langkah terakhir, kalau seandainya di stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) Tasikagung kehabisan stok bahan bakar. Selama masih melayani, maka nelayan harus membeli solar di SPBN. Baru setelah stok solar habis, nelayan bisa membawa surat keterangan ke SPBU. Pasti Dislutkan akan mengeluarkan rekomendasi, karena sesuai fakta di lapangan.

Soal alasan nelayan yang enak beli di SPBU karena bisa berhutang, sedangkan di SPBN tidak bisa, tentu bukan urusan dinas.

Warto, seorang anak buah kapal warga desa Gegunung Wetan Kec. Rembang Kota mengatakan nelayan enggan membeli solar dari SPBN, karena menunggu terlalu lama, sampai 5 hari. Tapi jika melalui SPBU, maksimal antre 3 hari sudah mendapatkan pasokan solar. Warto menambahkan sekali melaut, butuh bahan bakar 1.500 liter, untuk mencari ikan selama 10 hari.

Suhartono, salah satu pemasok solar nelayan berharap pemerintah kabupaten menjamin ketersediaan stok, jika ingin nelayan tertib membeli ke SPBN. Sering kali solar habis, sehingga terpaksa harus membeli di SPBU.

Warga desa Gegunung Wetan tersebut menambahkan selama ini mengantongi surat dari KUD setempat serta rekomendasi Dinas Kelautan Dan Perikanan. Pembelian ke SPBU masih lancar, tapi tetap terikat dengan aturan pembatasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *