Flash News
No posts found

“Ora Usah Demo Demonan…”

Pekerja di usaha penggergajian kayu tetap fokus dengan rutinitasnya pada Hari Buruh Internasional.

Pekerja di usaha penggergajian kayu tetap fokus dengan rutinitasnya pada Hari Buruh Internasional.

Sulang – Hari Buruh Internasional yang jatuh pada tanggal 01 Mei, hari Kamis, ditanggapi biasa biasa saja oleh kaum buruh di kabupaten Rembang. Kondisi tersebut berbeda jauh, apabila dibandingkan dengan kondisi sebagian daerah lainnya, Hari Buruh Internasional selalu diramaikan aksi demo, menuntut perbaikan kesejahteraan.

Edi Siswanto, warga desa Pedak Kecamatan Sulang misalnya. Ia tetap bekerja di pabrik penggergajian kayu Karya Nugraha, pinggir jalan raya Rembang – Blora, meski tanggal merah. Edi menganggap lebih baik bekerja, daripada demo.

Dengan tetap beraktivitas, maka dalam sehari bisa memperoleh penghasilan rata rata Rp 50 ribu. Kalau demo, justru isteri dan anaknya akan bingung, karena tak ada pemasukan untuk menyambung ekonomi keluarga.

Seorang pemilik kayu asal desa Kedungrejo Kec. Rembang Kota, Janadi menuturkan pekerja lebih mengutamakan mencari nafkah. Mereka tetap giat bekerja sampai pukul lima sore. Menurutnya demo tak berarti apa apa. Kalau ada keluhan, lebih baik langsung disampaikan kepada pimpinan perusahaan.

Sementara itu, Jasmani, Ketua Serikat Buruh Seluruh Indonesia Kab. Rembang, mengakui karakter sebagian besar buruh di daerahnya memang cenderung mensyukuri apa yang telah mereka dapatkan sekarang.

Hal itu karena belum banyak perusahaan membentuk serikat pekerja. Lowongan pekerjaan sektor swasta saja susah, kalau demo selalu muncul kekhawatiran akan dipecat. Meski demikian, Jasmani tetap menghimbau agar buruh berani melawan secara elegan, manakala tidak memperoleh hak hak gaji yang layak, minimal sesuai upah minimum kabupaten (UMK) Rp 985 ribu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *