Flash News
No posts found

Pengabdian Suwarto, Yang Pertama Dan Terakhir

Meski telah menjadi kepala sekolah, namun Suwarto terkadang ikut mengajar di dalam kelas SLB Rembang, Jumat pagi (02 Mei 2014).

Meski telah menjadi kepala sekolah, namun Suwarto terkadang ikut mengajar di dalam kelas SLB Rembang, Jumat pagi (02 Mei 2014).

Rembang – Pernahkah anda membayangkan menjadi guru, ditugaskan ke sebuah daerah. tetapi bangunan sekolahnya belum ada ? Nah..begitulah kisah yang pernah dialami Suwarto, Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Rembang, saat kali pertama masuk Rembang. Berikut kami hadirkan laporan selengkapnya, untuk memeriahkan peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari Jumat (02 Mei 2014).

Suwarto, pria berusia 53 tahun asli Boyolali ini mulai berprofesi sebagai guru di Rembang tahun 1983 lalu. Begitu tiba di kantor Dinas Pendidikan, ia diberitahu belum ada bangunan Sekolah Dasar Luar Biasa. Oleh dinas, dirinya kemudian dititipkan ke sebuah Sekolah Dasar di Kelurahan Leteh, sambil menunggu rencana pembangunan gedung sekolah. Tahun 1984 mulai didirikan Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) di sebelah utara Dinas Pendidikan Kab. Rembang.

Itupun tidak serta merta langsung mempunyai murid. Suwarto bersama dua guru lainnya terpaksa turun langsung ke rumah rumah warga yang mempunyai anak berkebutuhan khusus. Tantangan terberat kala itu, masyarakat menganggap sekolah tidak penting. Apalagi anak mereka memiliki kelainan, sehingga merasa malu. Pelan tapi pasti, pihaknya berupaya meyakinkan orang tua murid. Ia bersyukur sekarang kesadaran masyarakat menyekolahkan anak berkebutuhan khusus, semakin meningkat. Pemerintah kemudian mengimbangi dengan penambahan fasilitas. Jika dulu hanya ada SDLB, kini SMPLB dan SMA luar biasa, juga sudah tersedia, untuk memenuhi kebutuhan pendidikan berjenjang. Jumlah murid mencapai 199 anak, diperkuat oleh 28 orang guru, sebagian besar masih berstatus guru tidak tetap (GTT).

Suwarto yang telah diangkat sebagai kepala sekolah SLB Rembang, menambahkan mendidik anak berkebutuhan khusus merupakan panggilan hati. Semenjak bertugas di SLB selama 30 tahun, belum pernah sekalipun pindah ke sekolah lain. Banyak pengalaman, mulai dari menenangkan siswa berkelahi, sulitnya mengajar, hingga menangani murid buang air besar sembarangan di dalam kelas. SLB pulalah, tempat tugas pertama dan terakhir. Sebelum pensiun, ia ingin mewujudkan mimpinya, agar para lulusan SMA Luar Biasa bisa mendapatkan pekerjaan. Sekolah akan melakukan penjajakan, semoga ada pengusaha mau mengulurkan bantuan. Menurutnya banyak pekerja penyandang tuna rungu wicara, justru lebih produktif dibandingkan pekerja normal, karena fokus dalam menyelesaikan pekerjaan.

Pria tiga anak ini juga berharap pemerintah kabupaten Rembang terus memperluas layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Sekolah Luar Biasa baru ada di Rembang dan cabangnya Lasem. Diperkirakan masih banyak ABK belum mengenyam pendidikan formal, karena pertimbangan jarak tempat tinggal dengan sekolah, lumayan jauh. Untuk sementara ABK ditampung ke SD inklusif, campur satu kelas dengan siswa normal.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *