Flash News
No posts found

Inginnya Tertib, Justru Bikin Lumpuh Pantura

Sebuah truk keluar dari jembatan timbang Sarang. (gambar atas) kemacetan kendaraan di jalur Pantura, menunggu masuk ke jembatan timbang.

Sebuah truk keluar dari jembatan timbang Sarang. (gambar atas) kemacetan kendaraan di jalur Pantura, menunggu masuk ke jembatan timbang.

Rembang – Jalur Pantura perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur, tepatnya dari arah Surabaya, hari Senin (05 Mei 2014) lumpuh, gara gara petugas jembatan timbang tertib menegakkan aturan beban muatan kendaraan.

Semenjak Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo marah marah memergoki pungutan liar di jembatan timbang Batang, para petugas jembatan timbang di provinsi Jawa Tengah, mulai menegakkan aturan, sesuai standar operasional prosedur. Salah satunya jembatan timbang di pinggir jalur Pantura desa Temperak Kec. Sarang, perbatasan Jateng – Jatim.

Petugas memeriksa secara detail muatan barang, setiap kendaraan. Satu unit truk, rata rata membutuhkan waktu 3 – 5 menit. Kemacetan panjang tak terelakkan, karena di jembatan timbang hanya terdapat satu lajur penimbangan muatan. Bagi kendaraan yang muatannya melebihi 25 % dari jumlah berat yang diizinkan (JBI), maka langsung ditilang. Sedangkan kelebihan muatan dibawah 25 % JBI, sanksinya berupa denda, antara Rp 10 sampai Rp 60 ribu. Selama ini petugas lebih banyak memberlakukan denda, sehingga membuka potensi pungutan liar.

Penertiban tersebut justru membuat sejumlah sopir menggerutu. Djaelani, sopir asal Tuban mengaku selain stres menghadapi kemacetan, ia juga harus membayar tilang yang nominalnya jauh lebih besar, dibandingkan bayar denda di tempat.

Sulaeman, sopir asal Sidoarjo Jawa Timur mendesak jangan hanya di Jawa Tengah saja. Mustinya pengetatan muatan dilakukan merata, seluruh Jawa dan Sumatera.

Sebelum inspeksi mendadak gubernur Jateng, kendaraan yang ditindak, dalam sehari 250 an unit. Tetapi sekarang, terjadi peningkatan dua kali lipat.

Kepala Seksi Pengawasan Operasional Jembatan Timbang Sarang, Rusman Prayogo mengatakan kemacetan di dekat jembatan timbang mencapai puncaknya pada malam hari. Panjang kemacetan sekira 5 kilo meter. Ketika antrean bertambah parah, petugas jembatan timbang bersama kepolisian terpaksa meminta sebagian truk melanjutkan perjalanan, tanpa masuk jembatan timbang. Langkah tersebut semata mata untuk mengurangi kemacetan. Menurutnya solusi jangka panjang, pemerintah berencana menambah lajur penimbangan kendaraan sampai 4 titik dan musti memperkuat sumber daya manusia.

Parnoto, seorang pengguna jalan menganggap niat pemerintah membersihkan jembatan timbang dari Pungli sebenarnya bagus, supaya jalan tidak cepat rusak. Apalagi di jalur Pantura, ribuan kendaraan melintas setiap hari. Sayangnya masyarakat ikut dirugikan. Penegakan aturan, belum ditunjang sarana pra sarana jembatan timbang yang memadai. Cara terbaik, ia berharap kepada pengusaha dan awak kendaraan mematuhi aturan tonase muatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *