Flash News
No posts found

Susah, Memutus Mata Rantai Kekerasan

Kepala Dinbudparpora Kab. Rembang, Sunarto.

Kepala Dinbudparpora Kab. Rembang, Sunarto.

Rembang – Untuk memutus mata rantai permusuhan anggota pencak silat antar perguruan, diprediksi susah. Hal itu karena belum ada pihak yang peduli turun tangan menjadi penengah. Apalagi semangat membawa nama perguruan, sering melecut mereka, membela teman seperguruan, meski harus bertindak kekerasan.

Sunardi, seorang sesepuh pencak silat dari IKSPI Kera Sakti Rembang mengakui untuk mengendalikan anggotanya yang berjumlah 8 ribu orang lebih, memang sulit. Ia mencontohkan pernah muncul konflik antar perguruan di desa Menoro Kec. Sedan, beberapa waktu lalu.

Antar elite pengurus pencak silat sudah meneken tanda tangan kesepakatan damai. Selang beberapa hari, anggotanya kembali diserang. Kasus terakhir terjadi di lapangan desa Narukan Kec. Kragan. Kalau tidak cepat didekati, ia khawatir akan meluas, terutama pada saat ada even even perlombaan.

Kapolsek Kragan, AKP Siswanto berdalih polisi bukannya diam saja. Beberapa kali pernah memediasi pertemuan antar perguruan pencak silat. Ketegangan tak kunjung selesai, justru sepertinya turun temurun, beda generasi. Sejauh ini polisi belum menerima laporan resmi, sehingga tak ada satupun pelaku kekerasan ditangkap.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga Kab. Rembang, Sunarto mengatakan pencak silat merupakan warisan budaya leluhur yang kental dengan seni gerak tubuh, olahraga dan persaudaraan. Kalau kemudian saling serang, dikhawatirkan berdampak buruk terhadap citra pencak silat.

Sunarto berjanji akan menindaklanjuti masalah tersebut. Semisal mengundang tokoh tokoh perguruan pencak silat di kabupaten Rembang, membahas akar permasalahan dan bagaimana solusi antisipasinya. Bisa saja sesekali mereka latihan bersama, untuk mengurangi kesan exklusif dan merekatkan tali silaturahmi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *