Flash News
No posts found

Tiket Aspal Beredar, 3 Pelajar Terseret

AG, belum sempat menjual tiket asli tapi palsu, sudah keburu diciduk. (gambar atas) tiket asli diberi pewarna, sedangkan bawahnya tiket yang dibawa AG.

AG, belum sempat menjual tiket asli tapi palsu, sudah keburu diciduk. (gambar atas) tiket asli diberi pewarna, sedangkan bawahnya tiket yang dibawa AG.

Rembang – Pertandingan sepak bola kompetisi divisi utama di Rembang, ternoda oleh adanya peredaran tiket asli tapi palsu alias aspal. Ada dugaan melibatkan anak dari pihak percetakan tiket.

Hingga Minggu malam (18 Mei 2014), penyidik Reskrim Polres Rembang masih memeriksa intensif seorang pelajar kelas I SMK berinisial AG, usia 16 tahun. AG sebelumnya dipergoki panitia pelaksana pertandingan kompetisi divisi utama di depan kantor Samsat, sebelah utara Stadion, saat akan berlangsung laga antara tuan rumah PSIR Rembang melawan PPSM Magelang. Ia diduga menjual tiket asli tapi palsu.

Jefri, seorang panitia pelaksana pertandingan mengaku setelah tertangkap, tersangka dan barang bukti langsung diserahkan kepada aparat kepolisian. Sesaat kemudian dibawa menuju Mapolres Rembang. Menurutnya sejak lama ia menerima informasi peredaran tiket aspal. Agar mudah terbongkar, panitia pelaksana sengaja memberikan pewarna khusus pada tiket asli, usai dicetak. Begitu menjelang pertandingan, ternyata ditemukan ada tiket tanpa pewarna, maka dipastikan aspal.

Tiket asli kelas rata rata dibandrol Rp 15 ribu, namun AG berniat menjualnya dengan tarif lebih murah, yakni seharga Rp 10 ribu.

Tiket tersebut dibeli dari temannya satu kelas, berinisial NA. Ia kebetulan membawa 8 lembar. Yang lima untuk tiket masuk menonton sendiri bersama rekan rekannya, sedangkan sisa 3 lembar siap dijual. Belum sampai laku, terlanjur ditangkap. AG bersikukuh baru kali pertama ini mengedarkan tiket asli tapi palsu.

Hasil penyidikan polisi, tersangka NA mendapatkan tiket pertandingan dari seorang rekannya, anak pihak percetakan di Rembang, langganan Panpel. Diam diam ia mencetak sendiri, tanpa sepengatahuan orang tuanya. Semua ikut dipanggil, agar duduk permasalahan terang benderang.

Melalui proses mediasi, akhirnya panitia pelaksana mau memaafkan dan tidak akan menuntut secara hukum. Apalagi tiga orang yang diduga terlibat, masih berstatus sebagai pelajar. Ketua Panpel, Tri Cahyo Rismawanto mengatakan pihaknya hanya meminta kejadian semacam itu jangan terulang kembali. Tiket penonton merupakan sumber utama pendapatan untuk menghidupi tim, selama mengarungi kompetisi divisi utama.

Kabag Operasional Polres Rembang, Kompol Tri Wisnugroho menjelaskan pilihan antara proses hukum dan jalur kekeluargaan, tergantung Panpel selaku korban.

Hanya saja jika dikemudian hari, nekat memalsukan tiket penonton lagi, pihaknya menyarankan panitia menempuh jalur hukum. Tersangka pemalsuan bisa terjerat pasal 263 KUHP, dengan ancaman hukuman paling lama 6 tahun penjara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *