Flash News
No posts found

“Gara Gara Nikah Dini, Biasa Belajar Dengan Cucu…”

Suasana ujian kejar paket A di SDN Pengkol Kec. Kaliori, Selasa siang.

Suasana ujian kejar paket A di SDN Pengkol Kec. Kaliori, Selasa siang.

Rembang – Puluhan kaum lanjut usia di kabupaten Rembang, mengikuti ujian kejar paket A atau setara dengan Sekolah Dasar.

Di kabupaten Rembang ada 37 orang peserta ujian kejar paket A, tersebar di kecamatan Kaliori dan Kec. Sluke. Kami sempat memantau pelaksanaan ujian di SD Pengkol Kec. Kaliori, hari Selasa (20 Mei 2014), yang diikuti 17 orang warga belajar. Jangan pernah membayangkan peserta ujian mengenakan seragam. Mereka rata rata berusia antara 40 sampai dengan 60 tahun, hampir seluruhnya kaum wanita, sehari hari berprofesi sebagai petani.

Parini, warga desa Pengkol, salah satu peserta ujian mengaku selama ini ikut tergabung dalam kelompok belajar masyarakat (KBM) Ngudi Kawruh. Seminggu dua kali berkumpul, untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian. Beruntung sebagian besar soal bisa diselesaikan. Kalau belum memahami, ia tak sungkan sungkan bertanya kepada pengawas ujian.

Ujian sengaja digelar mulai pukul 13.00 wib, setelah peserta menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dan bertani di sawah. Siti Mutmainah, peserta lainnya mengaku tak ada rasa malu sedikitpun, meski saat masih di rumah harus belajar membaca bersama dengan cucu dan terkadang mendapatkan cibiran dari warga lain. Siti bercerita dulu tidak lulus SD, karena terlanjur dinikahkan orang tuanya. Ia berharap bisa lulus ujian, untuk melanjutkan ke jenjang paket B. Soal ijazah akan berguna atau tidak, dipikir belakangan.

Sampai hari kedua ujian kejar paket A di SDN Pengkol, tiga orang peserta tidak masuk, karena sakit sakitan. Ketua penyelenggara kegiatan belajar masyarakat, Sri Robi Setianingsih menjelaskan sebelum ikut ujian, warga belajar musti mengikuti keaksaraan fungsional selama 3 tahun, dilanjutkan uji coba. Pihaknya tak asal sembarangan menerima peserta.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kab. Rembang, Noor Effendi mengakui pihaknya masih harus meningkatkan kesadaran masyarakat, agar tidak berkubang pada masalah buta aksara. Melalui forum kegiatan desa, ia mengingatkan bahwa pendidikan tidak mengenal faktor usia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *