Flash News
No posts found

Sebutan Lain Desa Pasucen, Kembangkan ” Si Anti Maling”

Kawanan kerbau asyik menikmati rumput di pinggiran hutan, barat desa Pasucen Kec. Gunem.

Kawanan kerbau asyik menikmati rumput di pinggiran hutan, barat desa Pasucen Kec. Gunem.

Gunem – Desa ini sering disebut sebagai pusat kerbau, karena sebagian besar warganya lebih suka merawat ternak kerbau, dibandingkan sapi. Kondisi lahan dan tingginya nilai jual ternak menjadi alasan mereka. Yah..desa tersebut adalah Pasucen Kec. Gunem, sebuah desa yang terletak di pinggiran hutan KPH Mantingan.

Supardi, seorang warga desa Pasucen menjelaskan persawahan rata rata tanahnya gambut. Untuk mengolah lahan, kerbau dianggap lebih cocok, karena tenaganya cukup kuat.

Di desa Pasucen, sedikitnya terdapat 150 an ekor ternak kerbau. Para pemilik tak perlu susah susah mencari pakan. Ternak tinggal dilepas ke dalam hutan, sejak pagi hingga sore. Untuk menghindari kehilangan jejak, pemilik memasang semacam kalung berupa pahatan kayu di leher kerbau, sewaktu waktu menimbulkan bunyi nyaring.

Sutomo, warga desa Pasucen lainnya beralasan kalaupun ternak masuk ke tengah rerimbunan pohon, masih bisa terdengar suaranya. Begitu kenyang makan rumput, kerbau baru digiring menuju kandang yang ada di dekat lahan persawahan. Meski jauh dari permukiman penduduk, namun Sutomo yakin kerbaunya tak akan dicuri orang. Ia menganggap mencuri kerbau sangat susah, tak seperti sapi yang memang lebih mudah ditarik.

Sutomo menambahkan belakangan ini harga kerbau di pasaran cenderung mengalami kenaikan. Kerbau indukan, paling tidak dibandrol dengan harga minimal Rp 15 juta. Biasanya dikirim ke Pati dan Kudus, untuk komoditas daging. Tetapi petani di Pasucen tidak mau sembarangan menjual, karena mereka ingin memprioritaskan untuk mengolah lahan, sekaligus pengembangan ternak agar kedepan jumlahnya semakin bertambah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *