Flash News
No posts found

Gelisah, Bisa Berubah Jadi Lokalisasi

Petugas Satpol PP Rembang memantau deretan warung di pinggir jalur Pantura.

Petugas Satpol PP Rembang memantau deretan warung di pinggir jalur Pantura.

Lasem – Pihak kecamatan Lasem menyarankan pemerintah desa Sendangasri Kec. Lasem, mengkaji kembali izin penempatan sekira 40 an warung di pinggir jalur Pantura desa Sendangasri, karena ada dugaan sebagian disalahgunakan, salah satunya untuk praktek prostitusi pekerja seks komersial (PSK).

Pelaksana Tugas Camat Lasem, Kukuh Purwasana menuturkan menurut laporan Kades Sendangasri, warung warung tersebut berdiri di atas tanah bengkok salah satu perangkat desa.

Sesuai kesepakatan awal, digunakan usaha membuka warung. Jika belakangan sejumlah warung menyediakan jasa layanan sex PSK, maka sudah melanggar perjanjian. Tentu desa harus bergerak mengingatkan. Jika masih membandel, bisa saja selaku pemilik tanah mengambil tindakan tegas, termasuk kemungkinan penggusuran. Ia khawatir kelak pinggir jalur Pantura desa Sendangasri, akan berubah menjadi lokalisasi. Apalagi jumlah warung, lama kelamaan semakin bertambah. Kukuh menegaskan pihaknya tidak melarang orang berjualan, tetapi musti mematuhi aturan.

Kapolsek Lasem, Iptu Muhammad Syuhada mengakui keberadaan warung sempat memicu masalah sosial lain. Ia mencontohkan beberapa waktu lalu, sejumlah pria nekat memalak pemilik warung. Alasannya warung telah melanggar aturan, karena membuka praktek prostitusi, sehingga tak masalah apabila warga juga menarik pungutan. Karena situasi tegang, pernah ada warung diancam akan dibakar.

Syuhada menganggap aksi pemalakan sudah termasuk premanisme, tetap tak bisa dibenarkan. Polisi pasti akan menindak. Sedangkan menyangkut pelanggaran pemilik warung, menurutnya jajaran pemerintah kabupaten Rembang yang berwenang menangani.

Sambil menunggu langkah berikutnya dari pemerintah, Kapolsek Lasem menghimbau masyarakat desa Sendangasri tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum dan sama sama menghargai norma yang berlaku ditengah masyarakat.

1 Komentar

  1. cah ndeso

    Sudaj, gusur aj. Lha wong emang sudah jadi lokalisasi kok. Emange pemerintah belum tau atau pura2 belum tau sih…?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *