Flash News
No posts found

Antara Hidup Dan Mati, Berhari Hari Makan Sekenanya

Setelah berhari hari antara hidup dan mati, empat nelayan ini tersenyum semringah, usai diselamatkan nelayan asal Sarang Rembang.

Setelah berhari hari antara hidup dan mati, empat nelayan ini tersenyum semringah, usai diselamatkan nelayan asal Sarang Rembang.

Sarang – Sebuah kapal barang pengangkut pupuk, Hero Jaya tenggelam di timur laut Pulau Masalembo. Kapal tersebut berangkat dari Surabaya, menuju Kalimantan Timur pada tanggal 01 Juni lalu.

Tanggal 04 Juni, kapal dihantam ombak setinggi hampir empat meter. Akibatnya kapal beserta muatannya langsung tenggelam. Enam orang anak buah kapal (ABK), tercebur ke laut. Empat orang diantaranya mendapatkan pertolongan dari kapal Putra Madrim Baru, asal Sarang Rembang, masing masing Andy Hede Data (35 tahun) warga Probolinggo Jawa Timur, Rohmadin (42 tahun) warga Kebumen Jawa Tengah, Hidayat (38 tahun) dan Husein (50 tahun) warga Bangkalan Madura Jawa Timur. Sedangkan nahkoda kapal, Neman dan Hannan warga Madura, sampai Selasa sore (10 Juni 2014) belum ditemukan.

Keempat korban mengaku selama tiga hari empat malam terombang ambing di tengah lautan. Andy Hede Data mengaku waktu kejadian, ombak memang mengerikan. Ia bisa selamat, lantaran naik rakit. Untuk mengganjal perut, Andy hanya minum air laut dan makan tiram sekenanya. Begitu ditolong kapal nelayan asal Sarang, selanjutnya berlabuh ke Sarang. Setelah itu diantar petugas Polsek Sarang menuju Pos Keamanan laut Tasikagung Rembang.

Petugas Kesatuan Penjaga Laut Dan Pantai Rembang, Eko TS menuturkan semula kondisi ABK lemas dan menderita luka lecet di sekujur tubuh. Begitu mendapatkan asupan makanan, berangsur angsur membaik. Pihaknya segera berkoordinasi dengan syahbandar Surabaya, mengabarkan bahwa empat ABK Hero Jaya telah berada di Pos Kamla, secepatnya agar dijemput.

Eko TS menambahkan dari hasil pemeriksaan, sebagian besar anak buah kapal ternyata baru kali pertama berlayar menggunakan kapal Hero Jaya.

Menurutnya kondisi cuaca di Laut Jawa sulit diprediksi. Maka begitu menghadapi hantaman ombak yang mengganas, sebaiknya tidak meneruskan perjalanan, namun nahkoda kapal bisa segera mencari pulau terdekat, untuk berlindung.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *