Flash News
No posts found

Investor Tolak Penarikan Alat Berat

Seorang pekerja menunaikan sholat di atas alat berat, disela sela pemerataan lahan untuk tapak pabrik PT Semen Indonesia, sebelah barat desa Kajar Kec. Gunem.

Seorang pekerja menunaikan sholat di atas alat berat, disela sela pemerataan lahan untuk tapak pabrik PT Semen Indonesia, sebelah barat desa Kajar Kec. Gunem.

Rembang – PT Semen Indonesia sudah beberapa kali memberikan kesempatan kepada kubu yang menentang rencana pembangunan pabrik semen, untuk duduk bersama, saling bertukar pendapat. Tapi sayangnya, tawaran itu tidak pernah dimanfaatkan.

Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia, Agung Wiharto mencontohkan belum lama ini ada forum pertemuan dengan sejumlah ahli geologi di Yogjakarta. Pihaknya mengundang warga desa Tegaldowo Kec. Gunem dan sekitarnya, untuk ikut hadir. Ketika mereka menyampaikan keluhan, harapannya bisa dijawab oleh ahli berkompeten, sekaligus bersama sama mencari solusi terbaik. Semula mereka setuju akan mengirimkan perwakilan 5 orang, tapi belakangan justru minta paling tidak warga 1 bus siap berangkat ke Yogja. Karena pertimbangan alasan keamanan, akhirnya batal. Meski demikian PT Semen Indonesia akan mengagendakan pertemuan lanjutan dengan warga. Bahkan tak sekedar menunggu, investor juga turun langsung masuk ke rumah rumah penduduk menyampaikan sosialisasi.

Tokoh penolak pembangunan pabrik semen dari desa Tegaldowo Kec. Gunem, Sumarno menuturkan kubunya siap diajak duduk satu meja, dengan syarat seluruh kegiatan proyek dihentikan dan alat berat ditarik dari calon tapak pabrik. Alasannya, sosialisasi kepada masyarakat secara menyeluruh, musti dilakukan sebelum pemerataan lahan. Ia membantah ingin memaksakan kehendak, tetapi punya perhitungan dari sisi lingkungan dan pertanian.

Tuntutan penghentian proyek, ditolak oleh PT Semen Indonesia. Agung Wiharto memastikan tahapan pemerataan lahan dan persiapan peletakan batu pertama pabrik akan dilanjutkan, sesuai rencana. Pihaknya terbuka untuk dikritik maupun menerima masukan, asalkan realistis dan tidak mengganggu pembangunan pabrik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *