Flash News
No posts found

Bertahan, Polisi Kaji Pembubaran

Sejumlah wanita ini bertahan di pinggir jalan menuju lokasi tapak pabrik semen, Selasa siang.

Sejumlah wanita ini bertahan di pinggir jalan menuju lokasi tapak pabrik semen, Selasa siang.

Bulu – Hingga Selasa siang (17 Juni 2014), puluhan wanita dari desa Timbrangan dan Tegaldowo Kec. Gunem masih tetap bertahan di dekat jalan masuk menuju tapak pabrik semen PT Semen Indonesia, turut tanah desa Kadiwono Kec. Bulu.

Mereka bahkan nekat menginap di tempat itu, Senin malam, meski suasananya cukup gelap, di tengah kawasan hutan KPH Mantingan. Tampak pula belasan poster bernada penolakan pabrik semen, seperti tolak sampai mati pabrik semen, kemudian tidak akan meninggalkan lokasi, sebelum semua alat berat ditarik dari tapak pabrik semen.

Joko Priyanto, seorang warga desa Tegaldowo Kec. Gunem menyatakan para wanita rela tidak bekerja, demi menjalankan aksi tersebut. Pendemo baru akan pulang, kalau pemerintah dan investor memberikan keterbukaan atas rencana pembangunan pabrik semen. Jumlah massa hari Selasa semakin bertambah, semula 30 menjadi 70 an orang, tapi memang personelnya bergantian.

Joko beralasan kelak lokasi penambangan bahan baku semen, berada di sebelah selatan desa Tegaldowo. Meski berjarak 1 kilo meter, namun menurutnya dekat dengan permukiman penduduk. Apakah salah, jika warga ingin mendapatkan hak udara yang bersih.

Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia, Agung Wiharto menyatakan pihaknya sudah membuka forum diskusi. Tapi kubu masyarakat yang menolak cenderung memaksakan kehendak.

Berbeda apabila seandainya warga menyodorkan keluhan, kemudian investor menjawab. Begitu tidak cocok, bisa saling adu argumen dan data. Setelah itu ahli lingkungan menengahi. Kenyataannya forum seperti itu sulit terlaksana. Agung memastikan proyek tetap berlanjut, karena tidak ada aturan yang dilanggar.

Kepala Satuan Intel Polres Rembang, AKP Antonius Wiyono mengingatkan masyarakat mempunyai hak menyampaikan pendapat, demo atau sejenisnya. Tapi harus memberitahukan aparat kepolisian. Surat pemberitahuan dikirim tiga hari sebelum aksi, dicantumkan pula berapa orang jumlah peserta, di mana lokasinya, apa tujuannya dan siapa penanggung jawabnya.

AKP Antonius Wiyono menambahkan demo di akses jalan masuk tapak pabrik semen tidak berizin. Bisa saja petugas Polres Rembang langsung membubarkan mereka. Namun untuk sementara polisi memilih pendekatan secara baik baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *