Flash News
No posts found

PLT Bupati Sempat Disandera, Polres Siapkan Bantuan Pasukan

Mobil PLT Bupati dihadang massa kaum ibu ibu. (gambar atas) PLT Bupati Rembang, Abdul Hafidz terus dipegangi, seusai berpamitan dengan warga penolak pabrik semen.

Mobil PLT Bupati dihadang massa kaum ibu ibu. (gambar atas) PLT Bupati Rembang, Abdul Hafidz terus dipegangi, seusai berpamitan dengan warga penolak pabrik semen.

Bulu – Pelaksana Tugas Bupati Rembang, Abdul Hafidz sempat disandera oleh puluhan wanita yang menolak rencana pembangunan pabrik semen, Kamis sore (19 Juni 2014). Usai dialog, Hafidz semula akan pulang, namun mobilnya justru dihadang dan dipaksa untuk menuju tapak pabrik.

Kejadian itu bermula, ketika Pelaksana Bupati Rembang, Abdul Hafidz bermaksud menyerap aspirasi masyarakat yang mendirikan tenda di dekat akses jalan masuk menuju tapak pabrik PT Semen Indonesia, timur Songkel Mereng desa Kadiwono Kec. Bulu. Sejak hari Senin (16/6) lalu, ketika bersamaan peletakan batu pertama, mereka mulai siaga di tenda tersebut, sambil terus menyuarakan penolakan pembangunan pabrik semen.

PLT Bupati datang didampingi Asisten I Subhakti, Asisten III Setda Abdullah Zawawi dan tampak pula beberapa anggota DPRD Rembang.

Begitu rombongan pejabat tiba, langsung disambut tangis dan bacaan sholawat nabi oleh peserta aksi.

Setelah itu, Abdul Hafidz mencoba berbicara dari hati ke hati, apa yang diharapkan kelompok penolak pabrik semen. Ia berjanji akan memfasilitasi pertemuan antara warga, perwakilan investor dengan tim ahli independen, untuk mencari solusi bersama.

Begitu suasana mulai mencair, Hafidz menikmati makan nasi jagung dengan lauk kerupuk, yang dihidangkan warga. Setelah selesai, Pelaksana Tugas Bupati akan pamit pulang. Disinilah kegaduhan terjadi. Tangis para wanita kian menjadi, terus terusan memegangi tangan dan kaki Abdul Hafidz. Saat sudah masuk ke dalam mobil, entah siapa yang menggerakkan, massa tiba tiba menghadang mobil Bupati. Hafidz akhirnya turun, diminta mengunjungi tapak pabrik bersama warga. Hafidz menjawab sudah pernah kesana, ternyata massa tidak peduli.

Karena mobil sulit berjalan dan aparat keamanan kalah jumlah, akhirnya rombongan pejabat memenuhi keinginan warga. Hafidz berjalan kaki sejauh hampir 2 kilo meter. Sampai di tengah tapak pabrik, kubu penolak kembali melontarkan alasan sikap mereka. Sekira setengah jam kemudian, Abdul Hafidz diperbolehkan pulang.

Kasmun, seorang warga desa Timbrangan Kec. Gunem mengaku tetap bersikukuh menolak pabrik semen, karena khawatir ancaman polusi dan penambangan besar besaran bisa mengganggu sektor pertanian.
Kasmun menambahkan warga tidak mau meninggalkan tenda, sebelum alat berat ditarik dan kegiatan proyek dihentikan.

Setelah kedatangan pimpinan tertinggi Pemkab Rembang, ia menunggu tindak lanjutnya seperti apa. Kalau tuntutan tidak disetujui, warga tetap akan bertahan di dalam tenda.

Sebuah sumber di Polres Rembang menyebutkan semula puluhan pasukan pengendali massa akan dikirimkan ke lokasi tapak pabrik semen. Namun karena Pelaksana Tugas Bupati tidak disandera lebih lama, rencana itupun diurungkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *