Flash News
No posts found

Pemkab Arahkan Gugatan Hukum, Polisi Terus Pantau Aksi

Pelaksana Tugas Bupati Rembang, Abdul Hafidz saat menjaring aspirasi kubu penolak pabrik semen.

Pelaksana Tugas Bupati Rembang, Abdul Hafidz saat menjaring aspirasi kubu penolak pabrik semen.

Rembang – Pelaksana Tugas Bupati Rembang, Abdul Hafidz meminta kelompok warga yang menolak rencana pembangunan pabrik semen, untuk mengajukan gugatan hukum, apabila masih menganggap investor PT Semen Indonesia menyalahi aturan.

Abdul Hafidz menganggap jalur hukum menjadi cara paling tepat, sehingga akan bisa disimpulkan ada kesalahan prosedur atau tidak. Kalau antara kubu pro dan kontra hanya saling bantah, maka sulit selesai. Pemkab Rembang sendiri tidak mempunyai kewenangan untuk menghentikan atau menyetujui kelanjutan proyek. Semua dikembalikan proses aturan yang ada. Pemkab Rembang percaya terhadap penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) pabrik semen oleh tim ahli, terdiri dari ahli konservasi lingkungan Chafid Fandeli, ahli karst Eko Haryono, ahli geomorfologi Suratman, ahli tata guna lahan Totok Gunawan, ahli kesehatan masyarakat Adi Heru Sutomo, kelimanya dari Universitas Gajah Mada Yogjakarta. Kemudian ada pula ahli ilmu lingkungan, Dwi Sasongko dari Undip Semarang dan ahli ekologi Djalal Tanjung dari Universitas Islam Indonesia Yogjakarta.

Ia mengamati semakin banyak orang luar kabupaten Rembang yang ikut masuk, menolak pembangunan pabrik semen. Hafidz menghimbau masyarakat menahan diri dan jangan mudah terprovokasi.

Sementara itu Kapolres Rembang, AKBP Muhammad Kurniawan menegaskan pihaknya tidak akan membubarkan puluhan wanita warga desa Tegaldowo dan Timbrangan yang bertahan di bawah tenda, dekat akses jalan masuk menuju tapak pabrik semen di sebelah timur Songkel Mereng desa Kadiwono Kec. Bulu. Menurutnya masyarakat berhak menyuarakan pendapat. Asalkan jangan mengganggu ketertiban, seperti memblokir jalan.

Kapolres menambahkan anggotanya terutama dari Polsek Bulu bersama TNI, tetap memantau kegiatan masyarakat penolak pabrik semen. Apabila sewaktu waktu ada masalah, anggota di lapangan diminta langsung melapor kepada satuan komando atas.

Direktur Utama PT Semen Indonesia, Dwi Sutjipto mengungkapkan pendirian pabrik semen, agar Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Belakangan ini investor asing kian gencar melakukan ekspansi. Pihaknya berjanji masalah lingkungan akan diperhatikan. Di kawasan tapak pabrik saja, dari luas 55 hektar, 30 % diantaranya untuk ruang terbuka hijau.

Sementara itu Joko Priyanto, warga desa Tegaldowo menyatakan massa sudah berjanji tidak akan pulang, sebelum alat berat ditarik dan pembangunan pabrik semen dihentikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *