Flash News
No posts found

Warga Berebut Air Keruh

Warga desa Sambiyan Kec. Kaliori mengambil air dari embung, Jumat siang.

Warga desa Sambiyan Kec. Kaliori mengambil air dari embung, Jumat siang.

Kaliori – Warga desa Sambiyan Kec. Kaliori mulai berebut air embung, meski kondisinya agak keruh. Kekeringan menghantui desa tersebut, sejak setengah bulan terakhir ini.

Sekretaris Desa Sambiyan Kec. Kaliori, Sartono menjelaskan di desanya terdapat 613 kepala keluarga. Ada enam embung yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan mandi cuci kakus (MCK) dan minum ternak. Khusus air minum, rata rata warga membeli air kemasan galon atau jirigen.

Ia menunjukkan sebuah embung di sebelah timur kampung, setiap saat selalu ramai diserbu warga, terutama pada waktu pagi hari. Menurut perkiraan, embung masih mencukupi sampai bulan Agustus mendatang. Kebetulan beberapa waktu lalu turun hujan deras, sehingga debet air bertambah. Begitu nantinya habis, baru mengungsi mencari air ke desa desa lain.

Sartono menimpali Sambiyan memang selalu menjadi langganan bencana kekeringan. Penyebabnya air sumur tak bisa diandalkan, karena rasanya asin. Namun dampak kedepan tidak terlalu berat, setelah Sambiyan memperoleh tambahan embung besar. Sekarang sudah jadi, tinggal menunggu sampai terisi penuh.

Seorang warga desa Sambiyan, Sulastri berharap pemerintah tak sekedar membangun embung. Namun ia sangat mendukung apabila instalasi air dari perusahaan daerah air minum (PDAM) masuk ke desanya. Paling tidak, penduduk lebih fokus bekerja, tanpa harus memikirkan kesulitan air pada musim kemarau. Sejauh ini, jaringan pipa PDAM baru sampai di desa Dresi Kulon Kec. Kaliori.

Kepala Bagian Tekhnik PDAM Rembang, Suroso menuturkan perluasan pelayanan merupakan salah satu program yang terus dijalankan secara bertahap. Ia mengakui dua ribuan pelanggan di Kec. Kaliori masih memungkinkan untuk ditambah, meski menggantungkan pasokan dari embung Banyukuwung Sudo. Pihaknya musti mematangkan survei lapangan terlebih dahulu, setelah itu menentukan arah kebijakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *