Flash News
No posts found

Di Sana Berebut, Di Sini Sibuk Pasarkan Bangku

Seorang siswi SDN Ngotet Rembang setia mengawal bangkunya, meski kelas masih sunyi senyap, Senin pagi.

Seorang siswi SDN Ngotet Rembang setia mengawal bangkunya, meski kelas masih sunyi senyap, Senin pagi.

Rembang – Hari pertama masuk sekolah pada tahun ajaran baru, Senin pagi (14 Juli 2014) diramaikan dengan aksi rebutan bangku yang dianggap posisinya strategis.

Di SD Negeri Ngotet Rembang misalnya. Belasan siswa sudah datang ke sekolah dengan berseragam lengkap, meski baru pukul lima pagi. Salah satu siswi kelas III SD Negeri Ngotet, Della Anggraheni mengaku sehabis sahur langsung berangkat sekolah. Kebetulan pintu gerbang baru saja dibuka oleh penjaga. Ia memilih bangku paling depan, supaya lebih mudah menerima pelajaran dari guru. Terlambat sedikit saja, sudah pasti akan memperoleh barisan bangku paling belakang.

Kondisi serupa terjadi di SDN Tanjungsari I. Puluhan siswa bahkan sudah memadati sekolah di sebelah utara Perempatan Penthungan tersebut, sekira pukul 03 pagi. Mereka sengaja sebelum sahur, mampir dulu ke sekolah. Selain deretan bangku terdepan, biasanya orang tua yang mendampingi putra putrinya, juga mengincar bangku nomor dua dari depan.

Sementara di SDN Tanjungsari II kawasan Jogotami, kondisinya jauh berbeda. Pantauan kami, tak ada rebutan bangku. Situasinya seperti hari hari biasa.
Kalau tahun lalu, siswa baru kelas I di sekolah itu hanya memperoleh 3 murid, sekarang lebih banyak, yakni 9 anak. Pendaftaran siswa baru diperpanjang sampai awal bulan Agustus.

Kepala SDN Tanjungsari II – Rembang, Djumiatun menuturkan sebelum proses penerimaan ia bersama guru jemput bola, turun langsung ke Taman Kanak Kanak dan rumah penduduk, mencari murid. Ia memberikan pemahaman dengan jumlah murid yang sedikit, justru kegiatan belajar mengajar efektif, lantaran guru lebih leluasa mencurahkan perhatian. Selain itu sekolah memberikan seragam dan alat tulis gratis, sebagai daya tarik.

Djumiatun menambahkan total murid kelas I sampai dengan kelas VI, saat ini tercatat 34 anak.
Memang sejumlah guru yang telah menerima tunjangan sertifikasi sempat resah, ketika muncul wacana pada tahun 2015, seorang guru minimal harus mengajar 20 anak. Khawatir kelak berdampak terhadap tunjangan mereka.

Meski demikian, dirinya selalu mendorong guru jangan mudah menyerah dan tetap mendidik siswa sebaik mungkin. Pasti nantinya ada solusi dari pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *