Flash News
No posts found

Pria Ini Tak Gentar Dengan Tembok

Syahid, warga dusn Plukisan desa Ketangi Kec. Pamotan mengolah bambu, Selasa pagi (15 Juli 2014).

Syahid, warga dusn Plukisan desa Ketangi Kec. Pamotan mengolah bambu, Selasa pagi (15 Juli 2014).

Pamotan – Ditengah semakin banyaknya rumah tembok, para pengrajin dinding anyaman bambu (gedek) di dusun Plukisan desa Ketangi Kec. Pamotan tetap bertahan. Mereka optimis hasil karyanya tetap dibutuhkan oleh masyarakat, karena harga relatif terjangkau.

Seorang warga dusun Plukisan yang masih setia menggeluti profesi pembuat gedek, yakni Syahid (48 tahun).

Syahid mengaku mulai terjun dalam bisnis dinding anyaman bambu, sejak tahun 1992 lalu. Tak sekedar mengandalkan bahan baku bambu di desanya saja, tapi sering pula menerima pasokan dari luar kampung. Setelah terkumpul, bambu dipotong potong sesuai kebutuhan. Sejauh ini tak ada halangan mencolok. Kalau hanya jari tangan terkena serempetan senjata tajam, menurutnya hal biasa.

Syahid menambahkan anyaman bambu buatannya banyak dipasarkan ke berbagai wilayah. Ia berulang kali mengirim barang ke Rembang, Lasem, Sedan dan sekitarnya. Soal harga, tergantung besar kecil ukuran. Semisal panjang 7 meter dan lebar 2,2 meter, dibandrol Rp 500 ribu.
Menurutnya gedek masih laku, lantaran warga biasa memanfaatkan untuk bangunan rumah bagian belakang, kandang ternak, tempat penyimpanan jerami maupun kebutuhan lain.

Dari hasil mengolah bambu, Syahid bersyukur mampu membantu ekonomi keluarganya. Bapak tiga anak ini tak lupa mengerjakan aktivitas bertani dan merawat ternak. Namun membuat gedek dianggap sebagai salah satu sumber penghasilan yang akan terus ditekuni, sampai tenaganya tidak kuat lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *