Flash News
No posts found

Pedagang Pasar Terjangkit Demam Dadakan

Juwati, pedagang semangka yang mendadak berjualan ketupat.

Juwati, pedagang semangka yang mendadak berjualan ketupat.

Rembang – Menjelang lebaran ketupat, warga di kabupaten Rembang menyerbu lokasi penjualan janur dan ketupat. Peluang ini memunculkan banyak penjual ketupat dadakan.

Suasana di sebelah utara pasar Rembang, Jumat pagi (01 Agustus 2014) cukup ramai. Warga berdesak desakan, untuk membeli janur maupun ketupat yang sudah jadi. Di kabupaten Rembang, tradisi lebaran ketupat justru berlangsung seminggu, setelah Hari Raya Idul Fitri. Bukan bersamaan dengan sholat i’ed.

Biasanya hari Sabtu dan Minggu petang, masyarakat pesisir hingga pelosok pedesaan, serentak mulai merebus ketupat. Kemudian hari Senin, dilanjutkan dengan perayaan Syawalan.

Seorang pembeli janur, Sri Wahyuni, warga desa Gegunung Wetan Kec. Rembang Kota mengaku lebih senang datang ke pasar, daripada harus mencari ke desa desa di pegunungan penghasil janur, seperti Kec. Sulang dan Pamotan. Mahal sedikit tidak masalah, demi melestarikan tradisi setahun sekali.

Ramainya pembeli, membuat para pedagang beralih menjual janur dan ketupat dadakan.

Juwati misalnya. Warga desa Ketanggi – Rembang ini sehari hari menjual buah semangka. Tapi sekarang ikut menjajakan ketupat. Saat waktu longgar di pasar, ia membuat ketupat sendiri. Ternyata tambahan penghasilannya lumayan. Dalam sehari, bahkan mampu menjual lebih dari 200 ketupat.

Untuk ketupat jadi, setiap ikat berisi 10 buah, biasanya dijual rata rata Rp 7 ribu. Sedangkan janur kuning 100 lembar, dibandrol Rp 24 ribu. Setelah syawalan, pedagang kembali menjalani rutinitas seperti biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *