Flash News
No posts found

Woww, Sehari Rp 5 M

Seorang pengunjung membeli boneka untuk anaknya, di sebelah timur obyek wisata DAB Taman Kartini Rembang, Senin pagi.

Seorang pengunjung membeli boneka untuk anaknya, di sebelah timur obyek wisata DAB Taman Kartini Rembang, Senin pagi.

Rembang – Perputaran uang selama puncak tradisi Syawalan di obyek wisata Dampo Awang Beach Taman Kartini Rembang, pada hari Senin saja (04 Agustus 2014), diperkirakan mencapai hampir Rp 5 miliar.

Angka tersebut dihitung dari jumlah pengunjung yang perkiraan masuk ke obyek wisata sebanyak 35 ribu orang. Jika dirata rata setiap orang membelanjakan uangnya Rp 100 ribu, maka siklus uang mencapai Rp 3,5 miliar. Belum lagi tiket masuk ke obyek wisata, parkir, ikut lomban maupun pengunjung lain yang hanya memilih sekedar jalan jalan di luar Taman Kartini.

Padahal banyak pula pengunjung menyiapkan dana lebih besar. Kasan, warga desa Tuyuhan Kec. Pancur misalnya. Ia mengajak isteri dan empat anaknya, untuk berwisata. Paling besar menyedot pengeluaran ketika anak anak minta jajan, oleh oleh dan membeli mainan. Uang Rp 1 juta digelontorkan hanya dalam waktu setengah hari.

Beda lagi dengan Marzuki, pengunjung syawalan asal desa Dadapan Kec. Sedan. Kebetulan ia beberapa kali ditraktir oleh saudaranya. Meski demikian dari kantong pribadi, merogoh kocek hampir Rp 200 ribu.

Senin pagi, Pelaksana Tugas Bupati Rembang, Abdul Hafidz resmi membuka tradisi syawalan di halaman obyek wisata DAB Taman Kartini. Ia berharap pengelola melakukan sejumlah inovasi, supaya pengunjung tidak merasa bosan dan meningkatkan perekonomian. Pemkab kedepan ingin menyatukan Taman Kartini dengan wisata religi Bonang Binangun, yang akan mulai dipaparkan investor bulan September mendatang.

Manajer obyek wisata Dampo Awang Beach Taman Kartini, Murwadi membenarkan potensi syawalan menjadi salah satu ajang perputaran uang terbesar di kabupaten Rembang.

Bagi pengelola obyek wisata, yang dihitung berdasarkan hasil penjualan tiket. Sedangkan berkah lain dirasakan oleh pedagang, penyedia jasa perahu hingga tukang parkir. Hanya saja Murwadi agak menyayangkan mayoritas pedagang Syawalan, justru berasal dari luar kabupaten Rembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *