Flash News
No posts found

Semakin Pusing, Antre Sejak Dini Hari

Deretan colt bak terbuka antre solar di SPDN Tasikagung, Senin pagi.

Deretan colt bak terbuka antre solar di SPDN Tasikagung, Senin pagi.

Rembang – Ratusan kapal di dermaga pelabuhan Tasikagung Rembang, belum bisa melaut, hari Senin (11 Agustus 2014), gara gara masih menunggu pasokan solar.

Bahkan antrean colt bak terbuka yang mengangkut blung kosong memadati stasiun pengisian bahan bakar nelayan di sebelah selatan dan utara tempat pelelangan ikan (TPI), sejak Senin pukul 04.30 dini hari.

Salah satunya adalah colt milik Samin, warga desa Sendangagung Kec. Kaliori. Ia sudah puluhan tahun menggeluti bisnis jual beli solar, untuk kapal nelayan. Belakangan rutin memasok 7 unit kapal. Biasanya sekali melaut, kapal jenis cantrang rata rata membutuhkan 8 ribu liter solar, sedangkan kapal mini porsin 2 ribu liter.

Padahal ketika antre di SPDN, paling banyak hanya mendapatkan jatah 2 ribu liter per hari. Ia musti antre lagi keesokan harinya. Karena masih kurang, Samin terpaksa mencari ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Sayangnya sekarang prosedur semakin ketat dan ada larangan pembelian pada malam hari, sehingga untuk memenuhi kuota 7 kapal, sulitnya bukan main. Tak heran, sekarang banyak kapal masih bersandar di pinggir dermaga, belum bisa melaut mencari ikan.

Seorang operator stasiun pengisian bahan bakar nelayan Pelabuhan Tasikagung, Bambang Fitrianto menjelaskan setiap hari mendapatkan kiriman 16 ribu liter solar. Kalau datang jam 8 pagi, sekira pukul 3 sore langsung habis. Menurutnya antara jumlah kapal dengan kiriman bahan bakar minyak tidak sebanding. Apalagi sekarang kapal berangkat dalam waktu hampir bersamaan.

Bambang menimpali banyak nelayan datang ke SPDN menanyakan stok solar. Ia sampai capek memberikan jawaban.

Di Pelabuhan Tasikagung sendiri, sebenarnya terdapat 3 lokasi stasiun pengisian bahan bakar nelayan.

Bambang mengungkapkan bisa saja pihaknya mengajukan tambahan 2 kali pengiriman sehari. Tapi setelah program pembatasan dari Pertamina, pengelola SPDN juga harus menyesuaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *