Flash News
No posts found

Pengacara Minta Keringanan, Korban Tak Terima

Salah satu korban mantan notaris Tjahyono Santoso menunjukkan bukti kwitansi pembayaran, untuk mengurus perpanjangan hak guna bangunan.

Salah satu korban mantan notaris Tjahyono Santoso menunjukkan bukti kwitansi pembayaran, untuk mengurus perpanjangan hak guna bangunan.

Rembang – Mantan notaris Tjahyono Santoso, dituntut hukuman 1 tahun 6 bulan oleh jaksa penuntut umum, dalam sidang di Pengadilan Negeri Rembang, hari Rabu (13/8).

Berdasarkan fakta persidangan, Tjahyono terbukti melakukan tindak pidana penggelapan. Sidang yang dipimpin oleh Ketua Pengadilan Negeri Rembang, Albertus Usada itu langsung dilanjutkan dengan pembelaan terdakwa.

Penasehat hukum terdakwa, Darmawan Budiarto menganggap tuntutan tersebut terlalu tinggi. Saat membacakan nota pembelaan, ia memohon kepada majelis hakim, memberikan keringanan hukuman, karena kliennya sudah berusia lanjut, hampir 68 tahun. Pihaknya juga enggan mengajukan pledoi, sejak awal Tjahyono memilih mengakui seluruh perbuatannya. Darmawan menimpali sidang akan digelar lagi pada tanggal 27 Agustus mendatang, dengan agenda pembacaan vonis hukuman.

Beda lagi pendapat Gunawan Widjaya, warga Jl kartini Rembang yang menjadi salah satu korban Tjahyono Santoso. Ia menganggap tuntutan jaksa terlalu ringan, lantaran tindakan terdakwa merugikan banyak pihak dan telah mencemarkan nama profesi notaris. Maka Gunawan berharap kelak kalau terdakwa bebas, korban lainnya mau melaporkan Tjahyono kepada aparat kepolisian, sehingga bisa diproses lagi, untuk mendapatkan hukuman setimpal.

Sebagaimana kami beritakan sebelumnya, Tjahyono Santoso pernah membuka praktek di Jl Dr Wahidin Rembang. Saat tidak mengantongi izin operasional, Tjahyono justru tetap nekat membuka kantor di ruko pinggir jalan raya dusun Grajen desa Sumberejo Rembang. Ia melayani pembuatan sertifikat tanah, mengurus hak guna bangunan maupun perjanjian utang piutang. Warga sudah menyetorkan uang antara ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah, namun tidak beres. Berulang kali ditagih, Tjahyono hanya melontarkan janji.

Puncaknya bulan Februari tahun 2014, sejumlah korban menggeruduk kantor Tjahyono Santoso di dusun Grajen. Tjahyono kabur dan bersembunyi ke dalam rumah warga, karena takut menjadi sasaran. Merasa tidak ada jalan keluar, Gunawan Wijaya melapor ke Polsek Rembang Kota. Kasus tersebut akhirnya berujung ke meja hijau.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *