Flash News
No posts found

Kekayaan Melimpah, Dusun Ini Belum “Merdeka”

Tumpukan batu menghiasi sepanjang jalan menuju dusun Banyu. (gambar atas) sejumlah siswa asal dusun Banyu menunggu truk, untuk pulang ke kampungnya, seusai sekolah.

Tumpukan batu menghiasi sepanjang jalan menuju dusun Banyu. (gambar atas) sejumlah siswa asal dusun Banyu menunggu truk, untuk pulang ke kampungnya, seusai sekolah.

Pancur – Dusun ini memiliki kekayaan alam berlimpah, tetapi kondisinya sangat memprihatinkan. Sejumlah warganya bahkan menyebut mereka belum 100 % merdeka, meski kemerdekaan Republik Indonesia sudah memasuki usia ke 69.

Yah..begitulah yang dialami dusun Banyu desa Kalitengah Kec. Pancur. Dusun berpenghuni 100 an kepala keluarga ini berada di balik perbukitan sebelah timur dusun Tajen Pamotan, berjarak sekira 2,5 kilo meter atau sebelah selatan desa Kalitengah, berjarak hampir 4 kilo meter. Di bumi Banyu terkenal menyimpan batu andesit berkualitas. Banyak pengusaha tambang beroperasi selama bertahun tahun. Hilir mudik truk mengangkut batu, nyaris tak pernah putus.

Jumat siang (15 Agustus 2014), ketika Reporter R2B menyambangi dusun tersebut, tampak sejumlah siswa sekolah SMPN I Pamotan berteduh di bawah pohon, ujung timur dusun Tajen, sambil menutupi hidungnya, karena banyak debu yang menyesakkan pernafasan. Tak berselang lama, datanglah dump truk kosong, akan mengambil batu belah ke dusun Banyu. Tanpa sungkan sungkan, siswa langsung mencegat truk, kemudian naik di samping sopir. Menurut seorang anak, menumpang truk adalah sarana transportasi andalan, seusai pulang sekolah.

Sucipto, warga dusun Banyu mengatakan jalan antara Pamotan – Banyu, sebagian besar berupa tanah berbatu, itupun sumbangan dari sejumlah pengusaha tambang. Sedangkan jalur Banyu menuju Kalitengah, belakangan semakin tidak terurus. Ia menganggap dusun Banyu tertinggal dengan daerah lain. Apakah dari sisi infrastruktur, sudah merdeka ? pria ini memberi nilai, baru 50 %.

Menurutnya kalau pemerintah ingin meingkatkan kualitas jalan, Sucipto menyarankan fokus Banyu – Pamotan saja, karena menjadi akses ekonomi penting bagi masyarakat.

Hal senada diungkapkan warga dusun Banyu lainnya, Danuri. Saat kemarau seperti sekarang, masih mudah dilewati. Tapi kalau musim penghujan, ibarat menembus sawah berlumpur. Susahnya bukan main. Ia kasihan melihat anak anak yang akan bersekolah ke luar kampung, harus menaklukkan alam terlebih dahulu.

Tak hanya mengeluh soal akses jalan, warga juga sering menghadapi listrik padam. Jaringan listrik berasal dari dusun Tegalempar desa Candimulyo Kec. Sedan, sebelah timur Banyu. Meski cuaca cerah, terkadang pasokan listrik padam. Apalagi saat curah hujan tinggi, hampir terjadi setiap hari. Pernah tiga hari tiga malam, listrik mati total.

Danuri menimpali perhatian PLT Bupati Rembang, Abdul Hafidz terhadap dusun Banyu sudah sering dilakukan. Kedepan ia berharap perangkat desa lebih serius memperjuangkan infrastruktur dusun Banyu, melalui partisipasi pengusaha tambang. Mustinya dengan kekayaan alam berlimpah, mampu menyejahterakan kehidupan masyarakat setempat. Kalau pihak desa bergerak, kemungkinan sektor tambang mau mendukung. Jangan semata mata menunggu pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *