Flash News
No posts found

Petani Ikut Upacara Kemerdekaan, Babinsa Sibuk

Para petani di desa Sendangagung Kec. Pamotan, ikut upacara HUT Kemerdekaan RI, Minggu pagi (17/8).

Para petani di desa Sendangagung Kec. Pamotan, ikut upacara HUT Kemerdekaan RI, Minggu pagi (17/8).

Pamotan – Disela sela kesibukannya mengolah lahan, para petani desa Sendang Agung Kec. Pamotan, hari Mingu (17 Agustus 2014) menyempatkan waktu untuk mengikuti upacara memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 69.

Kekompakan warga desa Sendang Agung Kec. Pamotan, layak mendapatkan acungan jempol. Mereka berinisiatif menggelar upacara bendera di halaman Balai Desa setempat.

Tidak hanya kalangan pelajar, tetapi petani juga tak kalah semangat. Bahkan lengkap pula dengan membawa sabit, cangkul dan hasil bumi pertanian.

Salah satunya, Ahmad Zahrun Ni’am. Ia rela tidak ke sawah, demi memeriahkan HUT kemerdekaan RI. Apalagi upacara bendera seperti ini, baru digelar kali pertama di desanya. Usai upacara, baru pergi ke tegalan, untuk mencari rumput.

Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala Desa Sendang Agung, Ahmadi, sedangkan komandan upacara diambilkan dari anggota Linmas.

Ahmadi mengaku bangga mempunyai masyarakat yang bisa diajak bekerja sama menuju kebaikan. Ia sempat kaget, ternyata perwakilan petani turut berpartisipasi.

Petugas Bintara Pembina Desa (Babinsa) Sendang Agung, Sertu Basri beberapa kali sibuk mengarahkan, supaya upacara berlangsung khidmat. Maklum, rutinitas upacara bendera semacam ini terakhir kali dilakukan, ketika warga masih bersekolah.

Sertu Basri menjelaskan upacara digagas bersama karang taruna, karena ingin membangkitkan rasa nasionalisme masyarakat yang mulai luntur. Meski persiapannya mepet, hanya 4 hari, namun ia salut dengan antusiasme warga. Sehabis upacara, dilanjutkan kegiatan karnaval Agustusan dan lomba panjat pinang.

Sertu Basri berharap langkah desa Sendang Agung, bisa ditiru oleh desa desa lainnya. Selama ini, upacara bendera memperingati HUT Kemerdekaan RI tidak sampai ke penduduk kampung. Upacara hanya digelar di tingkat kecamatan dan kabupaten Rembang, sehingga gaungnya kurang terasa. Padahal untuk merebut kemerdekaan kala itu, para pejuang harus bertaruh nyawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *