Flash News
No posts found

Rawan Tergusur, Pemkab Didesak Mengantisipasi

Santri di desa Dadapan Kec. Sedan ini mengikuti pendidikan non formal. Mereka diharapkan tidak tergusur oleh kurikulum baru.

Santri di desa Dadapan Kec. Sedan ini mengikuti pendidikan non formal. Mereka diharapkan tidak tergusur oleh kurikulum baru.

Rembang – Penerapan kurikulum baru 2013 dikhawatirkan mengancam keberlangsungan pendidikan non formal, salah satunya Madrasah Diniyah. Hal itu disebabkan, karena satu bangunan sekolah sering berfungsi ganda. Pagi sampai dengan siang hari, untuk kegiatan belajar mengajar pendidikan formal, sedangkan sore harinya dipakai mengaji siswa Diniyah.

Ali faesol, Kepala Sekolah MTS Al Madinah desa Babak Tulung Kec. Sarang menjelaskan saat para kepala sekolah mengadakan pertemuan, masalah ini menjadi topik pembahasan.

Kurikulum baru mewajibkan proses pembelajaran selama 46 jam. Kabarnya juga ada tambahan 2 jam, sehingga total keseluruhan 48 jam dalam seminggu. Kalau benar benar dijalankan sampai 48 jam, maka siswa baru pulang mendekati pukul dua siang. Padahal biasanya siswa Diniyah, sudah mulai masuk pukul setengah dua siang. Ia khawatir akan menimbulkan masalah, jika tidak diantisipasi sejak sekarang. Padahal pendidikan Diniyahpun sama sama penting, untuk membentuk karakter generasi muda.

Menanggapi hal itu, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kab. Rembang, Djasim mengungkapkan kegiatan belajar mengajar dalam kurikulum baru, minimal 45 jam.

Ia optimis waktu penggunaan gedung sekolah, bisa diatur antar pengelola lembaga pendidikan. Pihaknya juga menerima informasi pasca pemberlakukan kurikulum baru, Pelaksana Tugas Bupati Rembang, Abdul Hafidz mewacanakan regulasi di tingkat daerah, supaya pendidikan formal dan non formal tetap berjalan.

Djasim menambahkan hari Kamis (21 Agustus 2014), kebetulan ada pertemuan kepala sekolah MI – MAN, di aula Kantor Kementerian Agama Kab. Rembang. Ia mengingatkan sekolah ikut menyukseskan kurikulum baru. Kalau tetap mempertahankan kurikulum lama, justru yang rugi adalah siswa dan sekolah sendiri, karena akan ketinggalan dengan sekolah lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *