Flash News
No posts found

Kritis, Dua SPBN Berhenti

Sebuah colt bak terbuka mengangkut jirigen kosong, antre solar di SPBN Pelabuhan Tasikagung, milik PT Bumi Putra Alam Persada, hari Selasa.

Sebuah colt bak terbuka mengangkut jirigen kosong, antre solar di SPBN Pelabuhan Tasikagung, milik PT Bumi Putra Alam Persada, hari Selasa.

Rembang – Kuota atau jatah solar tiga stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) di kawasan tempat pelelangan ikan TPI Tasikagung Rembang, hari Selasa (26 Agustus 2014) kondisinya kritis.

SPBN paling ujung selatan, sudah tidak melayani penjualan solar, karena kuota dari Pertamina untuk bulan Agustus ini habis. Sedangkan dua SPBN lain di sebelah utara masih menjual solar, tapi dipastikan tidak mampu bertahan lama. SPBN milik PT Bumi Putra Alam Persada, semula bulan Agustus memperoleh kuota 304 kilo liter, tetapi dikurangi menjadi 240 kilo liter.

Salah satu operator SPBN PT Bumi Putra Alam Persada, Sutrisno mengatakan kiriman terakhir sebanyak 8 kilo liter, habis pada hari Selasa. Maka sampai dengan akhir bulan Agustus, pihaknya tidak menjual solar lagi. Baru kemudian awal bulan September nanti, menunggu informasi kuota baru dari Pertamina. Menurut Sutrisno, kondisi tersebut diperparah tunggakan pembelian solar nelayan. Akibatnya proses pemesanan solar ke depo Pertamina, ikut molor.

Hal senada diungkapkan operator SPBN milik PT AKR Tasikagung, Wahyu Anang Mustofa. Hari Selasa, kuotanya masih tersisa 52 kilo liter. Karena semakin menipis, ia mengajukan permintaan atau delivery order (DO) lagi, mengantisipasi lonjakan permintaan nelayan, pasca dua SPBN lain yang kehabisan stok. Anang membenarkan tunggakan nelayan, menghambat proses DO. Bahkan beberapa kali harus datang menagih. Terkadang lima hari, mereka baru melunasi. Alasannya, nelayan menunggu pembayaran lelang ikan.

Kepala TPI Tasikagung Rembang, Tukimin berharap pemerintah tetap memprioritaskan kebutuhan solar nelayan. Kalau bahan bakar langka, tidak hanya memukul nelayan, tapi juga berdampak terhadap ratusan pekerja pengangkutan maupun pemindangan ikan.

Tukimin menambahkan ketika SPBN tidak mampu lagi menyuplai solar, tentu nelayan akan langsung beralih ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Padahal pasokan di SPBU ikut dikurangi. Beberapa hari terakhir, lelang ikan per hari rata rata mencapai 20 kapal atau tengah meningkat. Nantinya akan dipantau, untuk memastikan berapa tingkat penurunan aktivitas lelang, karena dampak kesulitan solar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *