Flash News
No posts found

PLT Bupati Sebut Alami Teror Ekonomi, Maksudnya?

Manajer PSIR musim kemarin, Siswanto bernyanyi di sela sela pembubaran tim. (gambar atas) PLT Bupati Rembang, Abdul Hafidz menyerahkan gaji kepada perwakilan pemain, Minggu pagi.

Manajer PSIR musim kemarin, Siswanto bernyanyi di sela sela pembubaran tim. (gambar atas) PLT Bupati Rembang, Abdul Hafidz menyerahkan gaji kepada perwakilan pemain, Minggu pagi.

Rembang – Pelaksana Tugas Bupati Rembang, Abdul Hafidz mengaku bingung, ketika manajer tim PSIR musim kemarin, Siswanto berharap masalah keuangan yang tombok setengah miliar rupiah lebih, segera dibereskan. Hal itu diungkapkan, saat pembubaran tim PSIR, di rumah dinas Wakil Bupati, Jl Dr Sutomo Rembang, hari Minggu (31 Agustus 2014), sekaligus menandai akhir kompetisi divisi utama

Dengan nada bercanda, Hafidz menyebutnya sebagai “teror ekonomi”. Waktu itu ketika ia menerima informasi Laskar Dampo Awang terancam tidak bisa melanjutkan kompetisi, langsung mengumpulkan sejumlah pejabat penggemar sepak bola, untuk mencari solusi. Semangatnya hanya satu, PSIR harus diselamatkan. Akhirnya setelah kesana kemari, bisa menggalang dana sekira Rp 405 juta, tanpa memperinci dari mana. Kalau ia pribadi, jelas tidak sanggup menanggung. Apalagi jika harus menekan bawahannya, bisa bisa mereka memilih lepas jabatan.

Dalam kesempatan tersebut, Pelaksana Tugas Bupati menyerahkan gaji terakhir pemain, total Rp 78 juta, kepada perwakilan pemain, Christian Lenglolo. Sedangkan masalah manajemen tombok setengah miliar rupiah lebih, sejauh ini belum ada solusi.

Manajer PSIR, Siswanto mengaku sudah tidak sanggup menangani tim musim kompetisi mendatang. Ia menitipkan keberadaan PSIR kepada Pelaksana Tugas Bupati, Abdul Hafidz, agar kelak semakin berjaya. Pria asal Kelurahan Tanjungsari Rembang ini juga memohon maaf kepada para pemain, karena sering marah marah selama kompetisi. Baginya, kalau marah berarti masih sayang.

Selesai memanjatkan doa, seluruh punggawa tim, manajemen dan pengurus makan bersama, sambil menikmati hiburan sejumlah penyanyi.

Sebelumnya, tim PSIR Rembang mengakhiri kompetisi Divisi Utama, pada posisi nomor tiga dan gagal menembus babak 16 besar. PSIR kalah bersaing dengan dua tim di atasnya, Persis Solo dan PSIS Semarang.

Jarwanto, sesepuh Gabungan Suporter Rembang mengaku meski gagal, namun komposisi pemain yang lebih banyak mengandalkan tenaga lokal, layak dicatat sebagai prestasi tersendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *