Flash News
No posts found

Cegah Gesekan, Sesepuh Silat Punya Usul

Suswantoro, Sesepuh PSHT Kab. Rembang. (gambar atas) perlombaan pencak silat di gedung Sanggar Budaya, beberapa waktu lalu.

Suswantoro, Sesepuh PSHT Kab. Rembang. (gambar atas) perlombaan pencak silat di gedung Sanggar Budaya, beberapa waktu lalu.

Rembang – Seringnya perkelahian antar perguruan pencak silat di pelosok pedesaan kabupaten Rembang, membuat sesepuh perguruan pencak silat Setia Hati Teratai, Suswantoro prihatin. Ia mengingatkan kembali arti pentingnya silaturahmi antar perguruan pencak silat, sehingga terjalin rasa persaudaraan, meski berbeda padepokan.

Suswantoro, Selasa pagi (09 September 2014), menjelaskan sebenarnya ajang untuk mempertemukan pengurus dan perwakilan anggota perguruan pencak silat sudah pernah berlangsung. Tapi lambat laun berhenti dengan sendirinya, karena sebagian pengurus tidak konsisten dan hanya sekedar mengirimkan anggota. Mustinya sebulan atau tiga bulan sekali, pertemuan semacam itu dihidupkan kembali.

Sambil menunggu perkembangan kedepan, pihaknya memfokuskan pembinaan kedalam PSHT sendiri. Bentuknya melalui pertemuan setiap malam Minggu di Padepokan komplek Perumahan RSS Mondoteko Rembang. Salah satunya ditekankan supaya menghindari tindak anarkis dan ikut menjaga ketertiban masyarakat. Tak ada paksaan, tetapi mengetuk kesadaran pribadi masing masing. Menurut Suswantoro yang juga menjabat Camat Bulu ini, perguruan tidak akan membela anggotanya yang melanggar aturan hukum.

Ketua IKSPI Kera Sakti Kab. Rembang, Sunardi mendukung pertemuan bersama antar perguruan. Selama ini tokoh tokoh sudah sering ketemu, tetapi sulit mengendalikan anggota yang masih muda muda. Sunardi sebatas menghimbau tiap kali ada tindak kekerasan, jangan dibalas dengan kekerasan.

Di kabupaten Rembang, saat ini terdapat sejumlah perguruan pencak silat, seperti Setia Hati Teratai, IKSPI Kera Sakti, Cempaka Putih, Tapak Suci, Asat dan Pagar Nusa. Bulan Mei 2014 lalu, seorang pelatih IKSPI Kera Sakti di desa Narukan Kec. Kragan diserang oleh perguruan lain, sehingga menderita luka luka. Belakangan ketegangan masih terjadi, meski sudah didamaikan.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga Kab. Rembang, Sunarto mengingatkan bahwa pencak silat adalah warisan leluhur yang harus dijaga, jangan sampai dinodai permusuhan luar arena. Kalau di dalam medan perlombaan tak masalah, dengan tetap mempertahankan semangat sportivitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *